Anak Ditabrak Lari Polisi, Pria Malang Tuntut Keadilan

by
March 14th, 2012 at 2:28 am

Seorang pria berumur 53 tahun, Indra Azwan tengah menuntut keadilan atas apa yang terjadi pada anaknya. Dia bertekad mencari keadilan dengan berjalan kaki dari Malang ke Jakarta, bahkan bila perlu sampai Mekah.

Warga Blimbing, Malang, Jawa Timur, itu selama 19 tahun mencari keadilan atas kasus tabrak lari yang menimpa anaknya, Rifki Andika, 12 tahun, pada 1993. Hingga saat ini penyelidikan kasus itu menggantung tanpa ada kejelasan lagi.

Merasa diberlakukan tidak adil, Indra kembali menjalani ritual berjalan kaki dari Malang menuju Jakarta dengan satu tekad, “menuntut keadilan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).” Sebelumnya Indra pernah melakukan aksi yang sama pada tahun 2010 dan 2011 lalu. Kini dia kembali datang untuk mengembalikan uang pemberian Pak Presiden yang diberakan untuknya pada tahun 2010 dan ingin menuntut keadilan bukan uang.

“Dia ingin mengembalikan uang Rp 25 juta pemberian Pak Presiden,” kata Beti, istri Indra.

Uang tersebut diterima Indra saat bertemu dengan Presiden pada 2010. Indra menerima uang tersebut setelah Presiden saat itu berjanji akan membantu membongkar kembali kasus kecelakaan yang mengakibatkan anakanya, Rifki Andika, tewas. Rifki ditabrak saat akan menyeberang jalan di Malang oleh seorang polisi, Joko Sumantri.

Indra menuntut kasus kecelakaan itu kembali diungkap. Sebab, berdasarkan putusan Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya pada 2008, Joko dinyatakan bebas dari hukuman. Pengadilan menilai kasus tersebut telah kadaluwarsa, yakni lewat waktu 12 tahun. Kasus itu memang baru disidangkan 15 tahun kemudian setelah kejadian.

Ini adalah merupakan aksi jalan kaki Indra yang ketiga kalinya. Dimana aksi pertama pada 9 Juli 2010, Indra berhasil tiba di Istana Negara 22 hari kemudian. Aksi kedua pada 27 September 2011 melalui jalur selatan, tapi tak sampai ke Istana karena ia sakit. Disusul aksi ketiga kalinya pada 18 Februari 2012 lalu.

“Keadilan itu cuma orang kaya, bukan rakyat miskin,” kata Indra saat ke Jakarta pada 2010.

Ketika bertemu dengan Presiden pada 2010, diinstruksikan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia memprioritaskan perkara ini. Namun, dua tahun berlalu, kasus tersebut tetap tak diungkap. “Sudah 19 tahun tak ada perkembangan yang berarti,” ujar Beti.

Jika rencana Indra ini gagal, menurut Beti, Indra berencana mengadukan masalah ini pada Tuhan. Indra menyiapkan paspor dan visa untuk berjalan kaki ke Tanah Suci untuk berpasrah diri. Ia akan berjalan melalui Palembang, Dumai, Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Iran, Kuwait, Riyadh, hingga ke Mekah.

Kejadian ini menunjukan betapa besarnya cinta seorang ayah kepada anaknya. Namun menyedihkan, jika kita melihat hukum Indonesia yang tidak berpihak kepada orang miskin. Kita tentu berharap aparat penegak hukum bisa mengambil langkah bijak dalam masalah ini. :)

Comment di sini