Hari Pertama Ujian Nasional 2012, Sejumlah Siswa Melakukan Praktek Curang

by
April 16th, 2012 at 1:36 pm

Seperti yang sudah diketahui, Senin (16/4/2012) ini sekolah tingkat SMA, SMK dan sederajat di seluruh Indonesia serentak melaksanakan ujian nasional (UN) 2012. Hari pertama UN ini sudah mulai diwarnai dengan sejumlah aksi curang yang dilakukan oleh peserta ujian.

Seperti dikutip dari Kompas, peserta SMA I Ulaweng di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, terlihat melakukan kecurangan di hari pertama UN. Para siswa sempat terlihat berbagi jawaban dan tak jarang saling berdiskusi di tengah ketenangan UN mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Di sekolah SMA I Ulaweng sendiri ujian nasional 2012 diikuti oleh 190 siswa. Mereka terlihat berkerjasama dan tukar menukar jawaban sesama peserta ujian. Pihak sekolah mengklaim sudah melakukan upaya pencegahan agar kecurangan UN tidak terjadi.

“Jumlah siswa keseluruhan 190 orang. Yang jelas, tenang kecurangan kami telah melakukan upaya pengawasan silang, yang semua pengawasnya berasal dari guru sekolah lain. Kita juga mendatangkan seorang pengawas dari Unhas,” ujar Mastan, Kepala SMA I Ulaweng dikutip dari Kompas, Senin (16/4/2012).

Tidak hanya di SMA I Ulaweng, peserta ujian dari SMA III Watampone juga melakukan sejumlah kecurangan yang sama. Bahkan mereka berbagi dan berdiskusi tentang jawaban di depan pengawas UN. Namun, pengawas terkesan acuh dan tidak menghiraukan praktek curang tersebut.

Ya, seperti yang sudah kita ketahui praktek curang saat ujian nasional memang selalu terjadi setiap tahunnya. Ketakutan akan tidak lulus menjadi salah satu penyebab banyak siswa nekat melakukan kecurangan. Tidak hanya mencontek atau kerjasama, sebagian siswa juga berani membeli kunci jawaban dari pihak luar. Padahal kunci jawaban tersebut belum tentu benar.

Mereka cenderung memilih cara singkat tersebut dibanding dengan belajar secara sungguh-sungguh. Apalagi, di jaman modern seperti ini kunci jawaban bisa disebarkan dengan mudah dan cepat. Tanpa perlu menghafal dan berpikir asalkan ada handphone atau smarthphone, kunci jawaban bisa diperoleh dengan mudah.

Meski sudah dilakukan berbagai antisipasi, kenyataannya praktek kecurangan UN masih terus terjadi. Sebenarnya siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Apakah pihak sekolah atau pihak dinas pendidikan?

Kalau begini terus, ujian nasional hanya akan jadi momok menakutkan bagi para siswa. Efektifkah ujian nasional dengan “sistem gugur” ini?? :)

Comment di sini