Siswi Sukabumi Tidak Lulus Setelah Tolak Cinta Kepsek

by

Wina Nidaul Gina, siswi SMA Darul Abror Kota Bekasi tidak boleh mengikuti ujian nasional (UN) lantaran tidak menerima cinta kepala sekolah. Gadis 17 tahun asal Sukabumi, Jawa Barat ini mendadak dikeluarkan dari sekolahnya pada hari pertama UN.

Menurut penuturan Wina, dia sempat mengikuti UN hari pertama dan mengerjakan soal Bahasa Indonesia. Setelah itu, tiba-tiba saja dia mendapatkan surat yang menyatakan bahwa dia dikeluarkan dari SMA Darul Abror Kota Bekasi karena telah melakukan tiga kesalahan.

“Saya sempat mengikuti UN Bahasa Indonesia. Usai mengerjakan Soal UN hari pertama tiba-tiba diberikan surat Drop Out (Do),” tutur Wina sembari mengusap air mata di pipinya seperti dikutip dari Radarsukabumi, Selasa (24/4/2012).

Dalam surat yang ditandatangai Kepala SMA Darul Abror Kota Bekasi, Mujahid Solahudin, disebutkan tiga pelanggaran yang dilakukan Wina sehingga harus dikeluarkan. Wina dituduh telah merusak rumah tangga kepala sekolah, menghina dengan perkataan kasar dan kurang wajar, serta mencemarkan nama baik kepala sekolah di jejaring sosial Facebook.

“Padahal tidak ada satu pun dari tiga tudingan itu yang saya lakukan,” kata Wina.

Wina mengaku selama ini dia memang sering mendapat perhatian dari Mujahid. Namun sebagai seorang siswa, dia menganggap perhatian Mujahid itu adalah sebatas guru kepada murid. Kabarnya, Wina juga sempat dibelikan handphone oleh kepala sekolahnya, katanya dibelikan untuk kelancaran komunikasi dengan keluarga.

Namun, Wina mengaku tidak menanggapi pemberian itu. Malah HP itu diberikan kepada kakaknya. Selain itu, Wina mengaku sering diajak makan oleh Mujahid. Tapi kata Wina selalu bersama beberapa teman kelasnya. “Saya tidak pernah makan berdua sama Pak Mujahid karena memang tidak ada hubungan spesial,” katanya.

Meski membantah, kedetakan Wina dengan kepala sekolah itu membuat dia dikucilkan oleh teman-temannya. Bahkan, dia dituding telah memelet Mujahid dan diisukan telah menikah. “Bahkan saya sempat dirukyah untuk memastikan kalau saya tidak pakai guna-guna dan memang terbukti tidak ada apa-apa, hanya alibi Pak Mujahid yang kemudian menyebar ke teman-teman,” imbuhnya.

Wina mengaku sering mendapat SMS dari Mujahid. “Kepala sekolah yang sering mengirim SMS dengan tulisan ‘Bapak Sayang Kamu, Kamu Sayang Tidak’. Saya mengabaikan aja SMS-nya,” ujar Wina.

Sebelum UN, Wina bersama kakak kandungnya sempat mengadu ke Dinas Pendidikan Kota Bekasi karena pihak sekolah seperti tidak adil. Di mana Wina belum diberikan kartu ujian, sementara teman-temannya yang lain sudah menerima.

Ketika pihak Dinas Pendidikan Kota Bekasi berjanji akan memediasi masalah ini. Hal yang tidak disangka justru datang di hari pertama ujian, Wina dikeluarkan dari sekolah. “Di dalam surat itu, dibuat tanggal 22 Maret 2012, tapi malah diberikan surat itu saat hari pertama UN,” keluhnya.

Sementara itu, Orantua Wina, Yati menuturkan, dirinya merasa kecewa dan sedih dengan apa yang menimpa anaknya. Ia meminta bantuan dari pihak Walikota Sukabumi untuk membantu anaknya agar bisa ikut ujian susulan.

“Saya berharap anak saya ikut UN dan lulus SMA, karena Wina pintar di sekolah bahkan selalu masuk tiga besar,” harapnya.

Sementara itu, pihak sekolah masih bungkam mengenai hal ini. Apakah benar Wina tidak boleh ikut ujian karena tolak cinta kepala sekolah?


comments powered by Disqus

Leave a Reply