Ki Hadjar Dewantara, Tokoh di Balik Peringatan Hardiknas Indonesia

by
May 2nd, 2012 at 10:55 am

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara (KHD)merupakan sosok sentral dalam dunia kependidikan Indonesia.

Terlahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889, KHD adalah tokoh pergerakan kemerdekaan sekaligus pembaharu sistem pendidikan Indonesia. Ia mendirikan Perguruan Taman Siswa yang menjadi pelopor lembaga pendidikan bagi kaum pribumi. Jasa KHD yang teramat besar di dunia pendidikan membuat tanggal lahirnya diabadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) oleh pemerintah.

KHD merupakan seorang yang cerdas dan giat bekerja keras demi kepentingan bangsa dan negara. Sewaktu tergabung dalam Boedi Oetomo, ia menjadi corong organisasi untuk membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia terutama yang berdiam di Pulau Hawa bahwa persatuan dan kesatuan itu amatlah penting dalam mencapai kemerdekaan.

KHD tercatat pernah bekerja sebagai wartawan surat kabar seperti Midden Java, Soediotomo, Oetoesan Hindia, De Expres, Tjahaja Timoer, Kaoem Moeda, dan Poesara. Tulisannya yang paling terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda”, yang dimuat di De Expres pada 1913. Tulisan tersebut membuat pemerintah Hindia Belanda berang karena dianggap menyinggung kebijakan mereka.

Ia kemudian diasingkan ke Pulau Bangka bersama dua rekan seperjuangannya, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.

Berdasarkan surat keputusan presiden nomor 305 tahun 1959, KHD dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Sukarno. Semoboyannya yang terkenal hingga sekarang adalah berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. (“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”). Semboyan dari Menteri Pendidikan Indonesia pertama tersebut masih dipakai oleh banyak institusi pendidikan di Indonesia.