6 Dari 10 Orang Tak Tahan 10 Menit Tanpa Berbohong

by
May 8th, 2012 at 11:38 am

Kebohongan dinilai identik dengan manusia. Hal itu seperti sudah melekat dalam diri manusia layaknya sebuah kebiasaan. Bagi sebagian orang, kecerdasannya digunakan untuk berbohong 1 hal, yang kemudian akan dilanjutkan untuk berbohong lagi demi menutupi hal-hal berikutnya. Itulah sebabnya ada pepatah berkata “Kebohongan 1 akan melahirkan kebohongan lainnya.”

Jika ditanya, siapa yang belum pernah berbohong? Pasti tidak ada yang menjawab karena sebagian besar orang pasti sudah pernah berbohong, entah itu berbohong dalam hal kecil ataupun berbohong untuk menutupi kesalahan besar yang dilakukan. Hampir tidak mungkin mendapati orang yang belum pernah berbohong selama hidupnya.

Bahkan, seperti yang diketahui saat ini, anak berusia 4 tahun saja sudah cenderung mengatakan hal-hal yang bertolak belakang dari kenyataan yang sebenarnya terjadi. Hal ini dikarenakan mereka sudah menyerap sedikit banyak dasar tentang kebohongan yang dilakukan orang dewasa di sekitar mereka.

Bedasarkan penelitian yang dilakukan di The University of Massachussets (2002), 60% orang dewasa cenderung berbohong sekurang-kurangnya 1x di dalam percakapannya, walaupun hanya percakapan singkat dengan durasi 5-10 menit berbicara. Presentase terbesar adalah berbohong kepada orang tua (86%), yang kemudian diikuti oleh bohong kepada teman (75%), kakak/adik (73%), dan yang terakhir kepada pasangan (69%).

Bohong kepada orang tua paling sering dilakukan karena anak-anak, bahkan ketika mereka sudah dewasa,  masih merasakan takut bila kesalahan kecil atau besar yang mereka lakukan diketahui oleh orang tua mereka. Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan karena trauma bahwa orang tua mereka selalu marah-marah ketika sang anak berusaha mengakui perbuatan buruknya. Hal ini juga dapat dipicu oleh kebiasaan berbohong orang tua mereka yang sudah terekam dalam ingatan sang anak sedari mereka kecil.

Kalau berbohong kepada teman, cenderung dikarenakan persaingan antar teman sehingga menimbulkan perasaan bahwa “dia” harus tampil lebih baik, kaya, ganteng, dsb dari teman-teman di sekitarnya. Namun, keadaannya tidak mendukung idealisme orang tersebut sehingga batinnya mendorongnya untuk berkata bohong ketika berbincang dengan teman-temannya, hanya untuk lebih dipandang di lingkungan sosialnya.

Para peneliti juga mengungkapkan bahwa 40% orang juga berbohong dalam menulis CV (Curriculum Vitae). Hal ini didorong oleh keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang terbaik, dan juga demi untuk dinilai “wah” oleh perusahaan yang menjadi sasarannya. Bahkan, kebohongan pun sudah merambah dunia maya.

Seperti yang diketahui oleh khalayak ramai bahwa jejaring sosial sudah menjadi gaya hidup manusia saat ini. Akan tetapi, jejaring sosial pun sudah dipakai sebagai perantara untuk berbohong. Tidak sedikit para pengguna memasukan foto-foto yang bukan dirinya untuk dipakai sebagai foto profil di akun jejaring sosialnya. Begitu juga dengan informasi-informasi yang dimasukkan ke dalam akun jejaring sosialnya tersebut.

Itulah fakta mengenai kebohongan manusia yang sudah semakin memburuk. Manakah yang akan anda pilih? Ingin menjadi pembohong sejati atau orang yang dapat terus dipercaya?

Comment di sini