Ulama Malaysia Fatwa Haram Aksi Demonstrasi

by
May 8th, 2012 at 2:56 pm

Ulama dari negeri tetangga mengemukakan bahwa partispasi dalama kegiatan unjuk rasa yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah dan memicu gangguan di dalam negeri adalah haram. Dr Abdul Shukor Husin pada Minggu 6 Mei, 2012 lalu menyatakan, “Kerusuhan menyebabkan gangguan dan kerusakan, itu dilarang dalam Islam”.

Husin juga mengatakan bahwa setiap muslim di Malaysia tidak dibenarkan mendukung gerakan yang dapat menimbulkan keresahan, kerugian atau kegelisahan apalagi yang dapat memecah belah serta minimbulkan pertumpahan darah. Alasan ini juga yang menjadi landasan dikeluarkannya fatwa haram.

Komite ini mulai menimbang dan memperhatikan secara serius mengenai masalah unjuk rasa yang baru-baru ini kerap terjadi di negeri jiran itu. Baru-baru ini massa yang menamakan dirinya sebagai Gerakan Bersih 3.0 adalah demonstrasi yang cukup besar dengan gelombang massa yang juga sangat besar menuntut adanya reformasi pemilu di Malaysia. Ketua Komite Fatwa Malaysia juga mengemukakan bahwa fatwa ini sebenarnya bertujuan untuk melindungi warga negara Malaysia dari kehancuran.

Di lain kesempatan, Gerakan Bersih 3.0 berpendapat bahwa fatwa haram itu memalukan karena agama telah digunakan untuk melindungi cara-cara kotor pemerintah dalam pemilu nantinya. Hishamuddin Rais juga berpendapat bahwa fatwa haram ini menjadi bahan tertawaan bagi para pemuda di Malaysia seperti dilansir Tempo.

Komentar tidak setuju juga muncul dari oposisi pemerintah. Harun Taib, Kepala Ulama Partai Islam se-Malaysia (PAS) berpendapat bahwa fatwa yang dikeluarkan oleh Komisi Fatwa Nasional Malaysia tidak tepat sasaran. Harun juga berpendapat bahwa sebuah fatwa sudah seharusnya mendukung penegakan kebenaran, membedakan yang benar dan yang salah adalah wajib hukumnya bukan haram.

PAS dan komisi fatwa memang sering berbeda pendapat karena PAS adalah oposisi pemerintah. PAS dan Komite Nasional Fatwa Malaysia juga memiliki pandangan yang berbeda mengenai cara penanganan teror di Malaysia. Apakah MUI juga akan mengikuti jejak negeri tetangga?

Comment di sini