Penyebar Foto Palsu Korban Sukhoi Berhasil Dilacak

by
May 15th, 2012 at 10:12 am

Tragedi jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100 dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebar berita palsu. Salah satunya adalah penyebaran foto palsu korban Sukhoi melalui Blackberry Messenger dan media sosial lainnya.

Menurut juru bicara Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, pihaknya saat ini telah menugaskan tim penyidik cyber Polri terkait foto palsu tersebut. Sejauh ini penyelidikan difokuskan di sosial media.

Inisial nama YS disebut-sebut sebagai pelaku penyebar foto palsu korban Sukhoi yang penuh dengan darah. Boy membenarkan hal itu dan mengaku kalau pihaknya sudah mengetahui keberadaan YS. Namun YS belum dijadikan tersangka karena masih dalam proses penyidikan.

Boy menegaskan, foto atau gambar-gambar yang bereda di media sosial mengenai korban pesawat Sukhoi Superjet 100 itu bukan foto asli. Itu adalah foto palsu yang disebar untuk membuat heboh masyarakat. Ia meminta kepada masyarakat terutama pihak keluarga korban jangan mudah percaya dengan gambar yang tidak jelas asal usulnya tersebut.

Boy juga mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak menyebar foto palsu. Karena hal itu sudah melanggar ketentuan. “Dilarang keras untuk distribusikan gambar-gambar dan info yang tidak sesuai dengan fakta,” ucap Boy seperti dikutip dari Tempo, Selasa (15/5/2012).

Sebelumnya, beberapa foto palsu terkait jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 memang sempat beredar dan membuat heboh pengguna internet. Mulai dari foto sayap bangkai pesawat dan foto sejumlah korban yang diklaim sebagai korban pesawat Sukhoi. Padahal berdasarkan keterangan dari pihak polisi foto-foto tersebut adalah palsu.

Foto bangkai sayap itu adalah bangkai pesawat Airbus A321 milik maskapai Airblue, Pakistan. Sedangkan foto-foto jenazah korban pesawat yang hangus itu bukan merupakan foto jenazah korban dari Pesawat Sukhoi Superjet 100. Jadi, jangan mudah percaya dengan berita yang tidak jelas asal-usulnya.

Pelaku penyebar foto palsu korban Sukhoi tersebut terancam hukuman penjara. Pelaku akan dijerat dengan Undang-undang mengenai penyalahgunaan perangkat Informasi dan Transaksi Elektronik.

Comment di sini