Pendiri Facebook Diburu Hingga Singapura Karena Kemplang Pajak

by
May 18th, 2012 at 4:18 pm

CBS News

Bila kita berbicara soal Facebook, yang ada dalam benak kita hanya 1 nama, yaitu Mark Zuckerberg.

Kali ini berita yang tak kalah pentingnya datang dari wakil pendiri Facebook, Eduardo Saverin. Memang telah terdengar kabar kalau Saverin berganti kewarganegaraan dengan alasan untuk menghindari pembayaran pajak yang cukup tinggi di Amerika. Keputusan Saverin ternyata membuat para anggota Majelis Tinggi Amerika bertindak.

Majelis Tinggi Chuck Schumer dan Bob Casey mengajukan rancangan undang-undang baru terkait dengan berita keputusan Saverin meninggalkan Amerika yang sudah menjadi rumahnya selama ini.

Menurut Schumer, mereka tidak akan tinggal diam jika alasan Saverin meninggalkan Amerika hanya karena “kabur” dari pajak. Hal tersebut dinilai sangat mengecewakan karena seharusnya Saverin tetap berada di negara yang sedari kecil ia tinggali dan membuatnya merasa nyaman hingga berhasil menjadi milyarder ini.

Saverin menjadi milyarder di Amerika, mengapa enggan bayar pajak ke negaranya sendiri.

Untuk memburu pajak Saverin disusunlah sebuah rancangan undang-undang dengan nama Ex-Patriot Act. Undang-undang ini mengatur denda yang diperuntukan bagi warga negara Amerika yang berniat mengganti kewarganegaraannya dengan tujuan menghindari pajak tinggi. Orang tersebut akan dikenakan denda 30% lebih tinggi serta tidak akan diterima kembali ketika  kembali masuk ke Amerika.

Sebenarnya, jenis peraturan ini sudah ada tertulis sejak tahun 1996 tapi masih butuh beberapa pembaharuan oleh Jaksa Agung, dan juga kasus seperti itu masih jarang ditemui di Amerika pada saat itu. Kasus Saverin mengundang para penegak hukum mengangkat kembali undang-undang tersebut.

Namun Saverin menyangkal bahwa alasannya meninggalkan Amerika karena enggan membayar pajak. Ia berkata bahwa ia mau dan rela membayar pajak untuk Amerika berapa pun besar jumlahnya. Hanya saja ia ingin menjadi warga negara Singapura murni karena ketertarikannya pada negara tersebut dan juga karena tuntutan pekerjaannya. Sebagai tambahan informasi, Saverin sudah berada di Singapura sejak tahun 2009.

Saverin juga menyesalkan bahwa keputusannya itu malah membawa perdebatan publik apalagi sampai ke Majelis Tinggi negara. Menurutnya, semuanya ini hanyalah salah paham belaka.

Comment di sini