Kisah Inspiratif Putri Herlina, Gadis Cantik Tanpa Tangan

by
May 23rd, 2012 at 9:38 am

Pernahkah kamu bersyukur dikaruniai tubuh yang lengkap dan sehat? Membayangkan hidup hanya dengan kaki mengerjakan segala sesuatu menjadi sangat sulit. Namun sepertinya hal ini tidak berlaku bagi Putri Herlina.

Putri Herlina memiliki semangat hidup yang luar biasa. Setelah ditinggalkan begitu saja di rumah sakit, dia dirawat oleh seorang perempuan bernama Susiani Sunaryo. Susiani merawat putri yang baru saja lahir sejak dia berusia 25 tahun. Saat itu dia menjadi relawan di Yayasan Sayap ibu dan kini wanita baik hati ini menjadi ibu panti di Kadirojo, Kalasan, Sleman.

Putri Herlina pun menjadi sosok yang tangguh dalam pengasuhannya. Gadis yang lahir pada 3 Oktober 1988 ini dibesarkan dan disekolahkan hingga tamat SMA. Putri sedari kecil diakui Susiani sebagai seseorang yang sangat aktif sehingga Susiani menyekolahkan Putri masuk ke TK walaupun banyak yang menolak namun akhirnya Putri dapat bersekolah.

Putri juga mengikuti beragam kegiatan di sekolahnya. Dia tidak bersekolah di sekolah khusus anak-anak yang memiliki kekurangan. Setelah sekolah TK dia lanjutkan pendidikan di SD Muhammadiyah Sambisari kemudian dilanjutkan ke SMP RC di Solo dan SMA Muhammadiyah Surakarta. Putri bercerita bahwa dia mengikuti Pramuka, 0lahraga dan semuanya layaknya murid biasa. Dia berkata bahwa dirinya tidak ingin diistimewakan. Jika di sekolah dia suka berada di depan dan menggunakan kursi untuk menulis karena meja terlalu tinggi bagi kakinya.

Putri tinggal sendiri di Solo sedangkan orang tuanya berada di Jogja. Dia harus mandiri seperti orang biasa. Dia bercerita bahwa dirinya mencuci sendiri, masak sendiri bersama dengan teman-teman sekos-nya. Sang ibu (Susiani) hanya datang sesekali membawakan beras dan lauk-pauk. Dia juga mengaku kalau dia pernah galau dan ibunya merupakan tempat berkeluh kesah dan bercerita. Setelah mengeluh pada ibunya, biasanya dia akan merasa lebih baik.

Pada tahun 2009 dia lulus sekolah dan mengikuti kursus bahasa Inggris intensif dan juga ikut pelatihan Yakkum Bethesda yang sering mengadakan training bagi kaum difabel. Setelah itu Putri bekerja sebagai penerima tamu atau resepsionis di kantor pusat Yayasan Sayap Ibu Jogjakarta. Di sini dia juga bekerja layaknya orang biasa dengan kemampuan yang sama seperti memasukkkan data, mengetik dan juga menulis undangan. Jika ditanya tentang cita-cita, dia menjawab jika sebenarnya dia ingin menjadi presenter TV.

Setelah dua tahun, dia akhirnya memilih untuk kembali ke rumahnya. Putri merasa lebih aman dan nyaman jika berada rumah karena ia ingin berada dekat dengan adik-adiknya dan berbakti pada ibunya. Setiap harinya Putri memandikan,memberi susu, mengganti popok dan juga menyuapi adik-adiknya.

Walaupun kegiatan sehari-hari hanya di rumah, Putri masih tetap berhubungan dengan temab-temannya. Saat ditanya tentang kehidupan cintanya, Putri mengaku dulu ada yang dekat dengannya dan sering meminta dicucikan baju saat dia masih di Solo dulu.

Putri menolak pemberian seorang donatur yang ingin memberinya sepasang tangan. Dia berkilah bahwa dia ingin suaminya nanti tau kekurangan dia apa karena sekarang pria hanya memandang wanita dari kelebihannya saja.

Nah, bagaimana dengan kamu? Masih saja mengeluh dan tidak bersyukur?

Comment di sini