Penelitian: Toleransi Antar Agama di Indonesia Rendah

by
June 6th, 2012 at 10:51 am

cathnewsindonesia

Tingkat toleransi beragama masyarakat Indonesia masih rendah. Hal ini terbukti melalui sebuah hasil survei yang dilakukan lembaga studi Center of Strategic and International Studies (CSIS). Toleransi beragama orang Indonesia masih rendah.

Kepala Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS, Philips Vermote mencotohkan, kurangnya toleransi bisa dilihat dari penolakan pembangunan tempat ibadah. Mayoritas orang Indonesia bisa menerima tetangga yang beda agama, namun tidak bisa menerima jika ada pembangunan tempat ibadah agama lain di sekitar lingkungannya.

Lembaga studi CSIS sudah melakukan survei pada Februari di 23 provinsi Indonesia. Dari 23 provinsi tersebut ada 2.213 responden. Survei dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan yang ada hubungannya dengan toleransi beragama.

Hasilnya, sebanyak 59,5 persen responden tidak keberatan bertetangga dengan orang yang beda agama. Sedagkan 33,7 persen lainnya memilih menolak tetangga yang beda agama dengan mereka.

Kemudian survei beralih ke pertanyaan soal pembangunan rumah ibadah agama lain di sekitar lingkungan mereka. Sebanyak 68,2 persen responden memilih menolak pembangunan tersebut. Sementara 22,1 persen lainnya mengaku tidak berkeberatan.

Dengan hasil di atas, Philips mengatakan bahwa tingkat toleransi beragama masyarakat Indonesia masih rendah. Tak terkecuali mereka yang berada di tingkat pendidikan yang dikategorikan sudah tinggi.

Philips menyimpulkan faktor pendidikan tidak akan menjamin tingginya tingkat toleransi dari orang tersebut. Terbukti dari hasil survei, mereka yang berpendidikan di atas SMA ternyata justru tidak toleran terhadap orang yang beragama lain. Mereka cenderung menolak dan tidak menerima orang beda agama tinggal di lingkungan hidup mereka.

Menurut Philips ini sangat berbeda dengan pandangan negara Indonesia yang demokratis. Padahal tolenransi adalah salah satu nilai-nilai demokrasi dalam menghargai masing-masing perbedaan. “Ini batu sandungan bagi Indonesia,” ujar Philips.

Comment di sini