Ilmuwan Berhasil Temukan ‘Tokek Setan’ Yang Langka

by
June 8th, 2012 at 8:51 am

mongabay

Setelah melakukan penelitian selama 20 tahun, akhirnya para ilmuwan hutan hujan tropis berhasil menemukan beberapa spesies langka. Salah satu yang menghebohkan adalah ditemukannya Uroplatus phantasticus (Tokek setan).

Penelitian ini dilakukan atas kerjasama ilmuan dengan Conservation International dalam Rapid Assessmenta Program (RAP). Binatang unik yang sudah berhasil dijumpai para ilmuan dikumulkan datanya dalam sebuah katalog.

Salah satu hasil penilitian selama 20 tahun itu adalah ditemukannya binatang yang unik yakni “tokek setan berekor daun” atau bahasa ilmiahnya Uroplatus phantasticus. Binatang unik ini berhasil ditemukan di Madagaskar pada 1998.

Sebelumnya pada 1888, ilmuwan pernah mendeskrispikan tokek unik ini. Tokek ini disebut-sebut menjadi hewan terkecil dari 12 spesies tokek berekor daun yang berbentuk aneh. Jumlahnya pun sangat langka.

Sesuai dengan namanya, “tokek setan” ini beraktivitas pada malam hari atau disebut hewan nokturnal. Di malam hari tokek setan ini sangat sulit untuk ditemukan karena warna kulitnya yang hitam dan bentuk ekornya mirip daun.

Menurut para ilmuwan, tokek setan ini hanya bisa ditemukan di lokasi hutan yang tidak terjamah manusia (masih natural). Pasalnya, populasi tokek ini sangat rentan mengalami kepunahan jika habibat tempat tinggalnya mengalami kerusakan.

Pada tahun 2004 yang lalu, organisasi pelindung satwa WWF memuat uroplatus dalam daftar “Sepuluh Besar Spesies yang Paling Banyak Diburu”. Tokek setan ini diburu untuk perdagangan satwa liar ilegal. Sebagian besar pembelinya menggunakan tokek setan ini untuk hewan peliharaan.

Hingga saat ini pemburuan tokek dengan bentuk unik ini masih sangat tinggi. Harga jual yang tinggi membuat pemburu liar semakin gencar melakukan pemburuan. Belum diketahui secara pasti berapa jumlah tokek setan yang masih tersisa.

Pada tahun 1998, tokek setan ini diketahui hidup di lorong Mantadia-Zahamena, Madagaskar. Hewan ini sangat peka terhadap perubahan lingkungan hidup mereka. Jika hutan tropis tempat mereka tinggal mengalami kerusakan, maka jumlah mereka pun akan berkurang.

Pemimpin penelitian selama 13 tahun, Alonso mengatakan bahwa penelitian soal alam yang dilakukan ia dan timnya adalah pembelajaran yang sangat luar biasa. “Ini pengalaman yang sangat menakjubkan,” ujar Aloson seperti dikutip dari VIVAnews.

Comment di sini