Kisah Kedekatan Sudono Salim dan Soeharto

by
June 11th, 2012 at 9:34 am

Liem Sioe LiongLiem Sioe Liong dikenal sebagai pebisnis yang paling dekat dengan mantan presiden Soeharto. Dia tetap berhubungan dekat dengan Soeharto meskipun era orde baru berganti menjadi era reformasi, sementara para pengusaha yang juga dekat dengan Soeharto, mulai menjauh.

“Pengusaha pasti ada kedekatan, tapi pasca Soeharto lengser, tidak ada yang sedekat itu (Liem dan Soeharto, -red)”, ucap Lin Che Wei, pendiri Independent Research & Advisory Indonesia, seperti dikutip dari Tempo.

Liem memulai hubungannya dengan Soeharto sebagai pemasok sabun bagi para tentara pada saat Soeharto menjabat sebagai Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah. Setelah bertahun-tahun bekerja sama, mereka sepakat untuk membangun pabrik terigu dibawah naungan PT. Bogasari Flour Mills di Jakarta dan Surabaya.

Pabrik ini mendapat perlakuan istimewa dari Soeharto. Agar terlindungi dari pesaing yang berasal dari Singapura, Bogasari diberi kekuasaan untuk menggarap pasar utama, Indonesia bagian barat, yang memiliki pangsa hampir 80%. Sementara pesaingnya dari Singapura hanya diizinkan untuk beroperasi di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan dengan pangsa hanya 20%. Selain itu, Liem juga memperoleh hak monopoli impor cengkeh untuk menyuplai pabrik rokok di Kudus, Jawa Tengah, melalui PT. Mega.

Liem Sioe Liong, yang bernama Sudono Salim pada saat terakhirnya, mendirikan lusinan perusahaan pada masa kejayannya. Perusahaan-perusahaan tersebut umumnya bergerak di dunia perdagangan, industri, dan perbankan seperti: BCA, Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, dan Indomaret.

Bisnis Liem sempat terpuruk seiring lengsernya Soeharto dari jabatannya sebagai presiden. Banyak perusahaannya yang gulung tikar. Aset-asetnya, termasuk kepemilikan atas BCA, harus dijual. Bahkan, sebuah perusahaan bernama Holdiko Perkasa sengaja dibentuk pemerintah untuk penjualan aset-aset Liem.

Liem memutuskan untuk meneruskan Grup Salim, usaha yang dirintisnya  sejak tahun 1950-an, kepada anaknya, Anthony Salim. Keputusan ini sangat tepat. Dibawah kepemimpinan Anthony, Grup Salim kembali membangun bisnis dengan bermodalkan persahaan-perusahaan yang masih tersisa. Sementara itu, Liem memutuskan untuk beristirahat dan menghabiskan sisa hidupnya di Singapura.

Comment di sini