Inovasi Pakaian Berbahan Minuman Anggur Merah

by
June 12th, 2012 at 10:15 am

Sebuah temuan baru lagi untuk dunia fashion. Kalau orang kebanyakan hanya bisa menikmati anggur mahal untuk kenikmatan di lidah ketika meminumnya, Gary Cass memikirkan hal yang berbeda dari minuman anggur atau yang lebih sering disebut sebagai wine.

Gary Cass adalah seorang ilmuwan yang terinspirasi oleh wine untuk membuat pakaian selulosa, pakaian yang terbuat dari mikroba atau jaringan sel yang terbentuk akibat fermentasi hewan bersel satu tersebut. Ide ini berawal ketika Gary berpikir bahwa kulit manusia layaknya sebuah karet yang terkontaminasi oleh bakteri-bakteri.

Ia memutuskan untuk merangkul seorang seniman yang bernama Donna Franklin untuk bersama-sama membuat pakaian dari hasil fermentasi bakteri pada minuman anggur.

Mereka menggunakan bakteri untuk mengubah kandungan alkohol yang ada di dalam minuman anggur menjadi kain selulosa. Caranya ialah dengan menuangkan minuman anggur pada sebuah cetakan atau langsung pada tubuh manusia dan dibiarkan selama beberapa saat agar bakteri yang digunakan dapat bekerja mengubah kandungan alkohol tersebut sampai menjadi jaringan-jaringan selulosa yang menyerupai kain pakaian.

Anggur yang mereka gunakan ialah campuran antara anggur putih (white wine), anggur merah (red wine), dan bir. Semakin banyak kandungan alkohol yang digunakan maka semakin banyak pula jaringan selulosa yang terbentuk sehingga pakaian tersebut bisa lebih cepat jadi.

Ternyata uji coba ini berbuah manis. Terciptalah pakaian dengan kain yang tidak usah ditenun atau pun dijahit terlebih dahulu, karena pakaian ini murni dihasilkan oleh bakteri hidup yang membuat kandungan alkohol dalam minuman anggur menjadi jaringan selulosa sepadat sebuah kain biasa.

Namun, ternyata tidak selesai sampai di situ. Gary dan Donna masih harus memperbaiki beberapa hal dalam temuan barunya ini sebelum nantinya benar-benar bisa dipasarkan. Masalahnya adalah kain selulosa yang dihasilkan ini tingkat elastisitasnya kurang baik untuk kualitas sebuah pakaian. Jika elastisitas kainnya tidak baik, ini akan mempengaruhi kenyamanan seseorang dalam mengenakannya.

Selain itu, aroma alkohol yang masih begitu menyengat juga akan membuat pemakainya merasa kurang nyaman. Oleh karena itu, Gary dan Donna masih terus mengembangkan temuan baru mereka ini untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Secara keseluruhan, Gary dan Donna sudah berhasil membuktikan bahwa minuman anggur juga bisa dipakai untuk menjadi bahan baku pembuatan pakaian.

Setelah penyempurnaan karya mereka nanti, mungkin temuan ini akan menjadi kabar baik bagi para industri kain dan pakaian karena dengan menggunakan produksi semacam ini, akan mengurangi biaya untuk menjahit dan menenun kainnya. Hanya cukup menggunakan bakteri hidup, Anda sudah mendapatkan kain selulosa yang pas dengan tubuh.

Namun, membuat pakaian dari bahan-bahan yang biasa dikonsumsi seperti ini bukanlah hal yang pertama kali terjadi dalam dunia fashion, sebab tahun lalu ada seorang mahasiswa asal Jerman juga melakukan penelitian untuk temuannya, yaitu pakaian hasil fermentasi dari susu. Bahkan ada juga beberapa orang seniman yang membuat pakaian berbahan dasar buah-buahan dan sayur-sayuran.

Shine/Yahoo

Comment di sini