Heboh! Foto Aborsi Paksa Wanita China Beredar di Internet

by
June 15th, 2012 at 10:14 am

Tempo

Pengguna internet di China dihebohkan dengan beredarnya foto aborsi paksa seorang ibu asal China. Dalam foto terlihat seorang ibu beserta janinnya yang telah diaborsi. Kejadian ini diduga akibat adanya kebijakan satu anak di China.

Belakangan diketahui ibu tersebut bernama Feng Jiamei dari Zhenping di Provinsi Shaanxi, China. Pejabat setempat mengetahui Jiamei telah mengandung anak keduanya dengan usia kandungan sudah tujuh bulan.

Jiamei dipaksa melakukan aborsi karena tidak bisa membayar denda untuk memiliki anak kedua. Keluarga Jiamei yang berekonomi pas-pasan mengaku tidak bisa membayar karena denda tersebut terlalu besar.

Deng Jiyuan suami Jiamei menuturkan bahwa istrinya dibawa ke rumah sakit secara paksa oleh seorang pejabat setempat. Jiamei lalu di tahan di rumah sakit sampai prosedur aborsi dilakukan.

Namun, pejabat tersebut menyangkal telah memaksa Jiamei untuk melakukan aborsi. Ia mengaku tidak pernah memaksa Jiamei seperti apa yang dituturkan oleh suaminya tersebut.

Untuk mendapatkan kepastian, pihak otoritas Keluarga Berencana setempat dan nasional China akan melakukan penyelidikan. Rencananya pihak keluarga Jiamei akan dijadikan saksi atas tuduhan yang diberikan kepada pejabat yang tidak disebutkan namanya itu.

Pemerintah China sebelumnya telah menetapkan peraturan wajib satu anak. Peraturan ini bertujuan agar populasi penduduk China bisa ditekan. Bagi yang melanggar peraturan tersebut maka akan dikenakan denda.

Karena jumlah denda yang sangat besar, sebagian orang China yang terlanjur mengandung anak kedua memilih melakukan aborsi. Itulah sebabnya praktek aborsi di China semakin banyak dan memprihatinkan.

“Cerita Feng Jianmei menunjukkan bagaimana kebijakan satu anak terus menjadi momok bagi para istri di China setiap hari,” kata Chai Ling, aktivis All Girls Allowed seperti dikutip dari Tempo, Jumat (15/6/2012).

Kebijakan satu anak di China ini memang masih jadi pembicaraan hangat oleh masyarakat setempat. Pasalnya mereka tidak setuju dengan peraturan yang mewajibkan harus membayar denda jika ingin punya anak kedua.

Comment di sini