Apa Itu Penyakit Leptospirosis?

by
June 20th, 2012 at 5:06 pm

Penyakit leptospirosis atau weil disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira yang dibawa oleh hewan, biasanya tikus dan ternak. Manusia bisa terkontaminasi bakteri ini melalui kontak dengan air kencing hewan ternak, biasanya terjadi lewat air yang tercemar bakteri tersebut.

Apakah penyakit leptospirosis itu?

Penyakit leptospirosis pada dasarnya merupakan penyakit mematikan yang memperngaruhi organ dalam baik manusia maupun hewan. Bakteri leptospira bisa menginfeksi hampir semua hewan dimana bakteri tersebut akan berdiam di dalam ginjal sebelum akhirnya tersebar melalui air kencing. Bakteri ini tidak menimbulkan penyakit pada tikus sehingga populasi binatang pengerat ini tidak terpengaruh dengan tingginya level infeksi.

Fase parah leptospirosis disebut sindrom weil.

Penyakit ini adalah penyakit zoonosis (penyakit yang disebarkan oleh hewan) yang paling cepat menyebar di dunia khususnya di daerah tropis dan sub tropis. Mereka yang senang dengan olahraga air, bekerja di dalam atau dekat dengan air memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi bakteri ini daripada mereka yang tidak.  Warga yang tinggal di daerah banjir juga rentan terkena penyakit ini. Biasanya air kencing tikus yang larut dalam airlah yang menjadi penyebab utama.

Proses infeksi

Infeksi pada manusia biasanya terjadi karena ada luka terbuka yang terendam dalam air tawar dan telah terkontaminasi air kencing ternak atau tikus. Namun infeksi bisa juga terjadi saat berada di air yang mengalir seperti kolam yang tidak terawat, kanal, sungai, danau, dan daratan yang banjir. Mereka yang mudah terinfeksi virus ini adalah:

  1. Perenang yang menyukai berenang di luar seperti danau, sungai memiliki tingkat infeksi yang lebih tinggi karena seringnya berada di dalam air.
  2. Orang yang sering beraktivitas di dekat air atau di dalam air tawar seperti memancing, bermain ski, berlayar dan juga kayak.
  3. Orang yang beraktivitas di sekitar lokasi yang digenangi air dimana terdapat luka terbuka pada orang tersebut.

Walaupun begitu, orang-orang yang telah terinfeksi leptospirosis sebelumnya memiliki kekebalan tubuh terhadap jenis infeksi leptospirosis tertentu yang telah menginfeksi mereka dan jenis lain yang masih berhubungan dengan infeksi sebelumnya hingga 10 tahun. Mereka tidak memiliki kekebalan terhadap jenis infeksi yang lain dan bisa saja terinfeksi lagi apabila terus menerus melakukan aktivitas yang berisiko.

Leptospirosis tidak selalu disebabkan karena gigitan tikus atau tidak sengaja menelan air yang kemungkinan telah terkontaminasi.

Bakteri leptopsirosis tidak mampu bertahan di air yang asin sehingga tidak ada risiko penyakit ini karena berenang di laut. Risiko terinfeksi penyakit ini bervariasi namun umumnya dilihat dari banyaknya populasi tikus lokal yang biasanya sangat sulit untuk diteliti.

Gejala terkena leptospirosis

Setelah terkena infeksi, manusia biasanya akan menderita gejala mirip flu selama kurang lebih 4-7 hari. Penderita akan mengalami sakit tenggorokan, nyeri dada, batuk-batuk, sakit kepala, takut cahaya, dan muntah darah.

Setelah mengalami fase tersebut, biasanya kondisi penderita akan membaik selama 1-3 hari, sebelum memasuki fase kedua saat tubuh merespon infeksi tersebut dengan mengeluarkan pertahanannya.

Pada fase kedua yang disebut fase imun, organ seperti hati, ginjal, mata, dan otak akan terganggu. Penderita juga akan mengalami penurunan nafsu makan, gangguan pencernaan, dan badan terasa lemah.

Pengobatan leptospirosis

Ketika mengalami gejala awal leptospirosis, penderita disarankan untuk diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, atau amoksisillin. Namun, apabila leptospirosis sudah mencapai tahap gawat, gunakan eritromisin, penisilin G, atau ampisilin.

Biasakan perilaku hidup bersih agar terhindar dari penyakit leptospirosis. Waspadai tikus yang gemar bergentayangan di sekitar rumah, terutama ketika terjadi banjir.

Di Indonesia sendiri, leptospirosis ditemukan di sejumlah provinsi seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bali, Sulawesi Selatan, NTB, Kalimantan Timur, dan DKI Jakarta. Berdasarkan data tahun 2002, angka kematian akibat leptospirosis mencapai 2,5-16,45 %. Namun, angka kematian mencapai 56 % pada usia lebih dari 50 tahun.

Rospa

Comment di sini