Muthia Datau, dari Atlet Sepakbola Wanita Hingga None Jakarta

by
June 20th, 2012 at 1:18 pm

Anda tentunya tahu sosok atau tokoh-tokoh terkenal dalam dunia sepak bola Indonesia seperti Ronny Pattinasarany, Robby Darwis, Widodo Cahyono Putro, atau yang baru saja meninggalkan kita, Ribut Waidi (lihat: Alasan Mengapa Ribut Waidi Dirindukan) Tapi, bagaimana dengan pesepakbola wanita Indonesia? Mari, kita bahas salah satu wanita yang menjadi legenda sepak bola wanita Indonesia, agar kita sama-sama tahu.

Muthia Datau namanya. Jika pada era 70 hingga 80-an Anda sudah mengenal sepakbola, sudah tentu Anda juga mengenalnya karena ia merupakan pemain bintang yang gemilang pada masanya. Beliau juga merupakan pesepakbola wanita terbaik sepanjang sejarah Indonesia.

Lampung, tempat yang juga terkenal karena kemampuan gajah bermain bola, merupakan tanah kelahirannya. Ia terlahir pada 12 Agustus 1959. Putri pasangan alm. Yan Datau dan Siti Nurhayati tersebut gemar bermain sepak bola sejak kanak-kanak.

Karier sepak bola Muthia dimulai saat ia berusia 14 tahun. Seorang tetangganya, yang juga merupakan pelatih sepakbola wanita, mengajaknya bergabung ke klub sepakbola wanita Buana Putri. Berkat kemampuannya, tak butuh waktu lama bagi Muti–sapaan akrab Muthia Datau– untuk membuat namanya tercantum di daftar pemain utama sebagai kiper.

Ia terus tampil konsisten hingga namanya tidak hanya tercatat dalam daftar pemain utama Buana Putri, tapi juga dalam daftar pemain utama di Tim Nasional Indonesia. Ia pun sukses meraih perunggu dalam Asian Women Football 1977 di Taiwan.

Khawatir jika anaknya menjadi semakin tomboi, orang tua Muti mendaftarkannya ke dalam ajang pemilihan Abang None di Jakarta Barat selang setahun setelah ia pulang dari Taiwan. Secara mengejutkan, ia menang dan terpilih sebagai None Jakarta Barat 1978.

Semenjak itu, Muti mulai merambah dunia hiburan, ia pun mulai bermain film. Beberapa judul pernah dibintanginya, di antaranya Ira Maya dan Kakek Ateng (1979), Sepasang Merpati (1979), Sirkuit Kemelut (1980), Malu-malu Kucing (1980), Intan Mendulang Cinta (1981), dan Wolter Monginsidi (1983). Film Sirkuit Kemelut boleh jadi merupakan film paling favorit yang dibintangi Muti. Pasalnya, dalam film tersebut ia bertemu dengan Herman Felani, sosok yang hingga kini masih menjadi suaminya.

Setelah sibuk bermain film, Ia memutuskan untuk kembali bermain sepak bola. Pada usia 27, ia mengandung anak pertamanya kemudian memutuskan untuk  gantung sepatu. Kegiatannya setelah pensiun lebih banyak diisi dengan menjadi komentator sepakbola di stasiun televisi atau menjadi penulis rubrik olah raga di sejumlah media. Hingga saat ini, ia masih menyimpan satu keinginan besar, yaitu menjadi seorang pelatih sepakbola.

Comment di sini