Haruskah Kita Berhenti Menulis Tangan?

by
June 26th, 2012 at 2:45 pm

Matthias Hauser / Getty Image

Satu lagi hal kecil yang terkikis oleh adanya kemajuan teknologi: kemampuan Anda menulis tangan. Dengan segala kemajuan teknologi yang ada saat ini, kita dimanjakan oleh segala fasilitas yang didukung teknologi. Sebagian besar dari kita tidak lagi menggunakan pulpen dan kertas.

Wartawan, misalnya. Dulu, mereka menggunakan pulpen dan kertas untuk mencatat segala informasi yang akan mereka sampaikan kepada pembaca. Untuk mempersingkat waktu penulisan, mereka mencatat menggunakan stenografi, sebuah cara menulis yang memungkinkan kita menulis hampir sama cepatnya dengan berbicara. Kini, mereka hanya perlu merekam, atau mengetiknya di BB, bahkan menyebarkan informasi tersebut secara langsung.

Tapi, kita tidak akan membahas jauh mengenai stenografi. Kita akan bahas hal yang lebih sederhana, menulis tangan. Seperti disampaikan sebelumnya, teknologi membuat tradisi menulis bergeser sedikit demi sedikit menjadi ‘mengetik’. Pulpen dan kertas hampir tergantikan oleh keyboard dan monitor. Lalu, seberapa jauh kini cara menulis tradisional tertinggal oleh era ponsel pintar?

Sebuah riset yang dilakukan oleh Docmail, situs penyedia layanan printing dan mailing, mengungkapkan bahwa rata-rata seorang dewasa menulis tangan kini  hanya 41 hari dalam waktu satu tahun. Selain itu, mereka juga menemukan bahwa 1 dari tiga orang tidak mempunyai alasan untuk menulis tangan selama hampir 6 bulan. Dua per tiga dari 2000 responden mengaku menulis hanya sekedar ‘coret-coretan’ sebagai pengingat, atau sebagai catatan yang nantinya akan diketik ulang.

Lebih dari separuh responden juga mengakui bahwa kualitas tulisan tangan mereka menurun, dengan 1 dari 7 di antara mereka mengaku merasa ‘malu‘ saat membaca tulisan tangan mereka. Satu dari 3 orang juga mengatakan mereka perlu waktu lebih banyak untuk bisa membaca dan mengerti tulisan tangan mereka sendiri. Bahkan, 4 dari 10 orang Inggris mengaku mengandalkan fitur ‘teks prediktif’ dan mengandalkan fitur ini untuk memperbaiki pengejaan.

Dave Broadway selaku direktur Docmail mengatakan, “Sangat memalukan bahwa kualitas tulisan tangan kini terus menurun, ini merupakan akibat dari kebutuhan akan kenyamanan dan komunikasi yang jelas dan cepat.”

Masyarakat modern, cenderung mencari jalan singkat untuk memudahkan segalanya. Dan ketika segala kemudahan disediakan teknologi, maka mereka akan lupa dengan cara-cara ‘tradisional’. Bahkan, untuk hal kecil seperti meninggalkan catatan di kulkas, membuat daftar belanja, mengucapkan selamat ulang tahun, atau hari raya, kita lebih memilih menggunakan berbagai macam teknologi yang tersedia.

Tambahan terakhir, satu dari enam orang Inggris bahkan berpikir bahwa menulis tangan tidak perlu lagi diajarkan di sekolah. Bagaimana dengan Indonesia?

Comment di sini