Wah! Sering Menyundul Bola Bisa Rusak Otak?

by
June 29th, 2012 at 10:12 am

Permainan sepak bola mengharamkan penggunaan tangan saat bermain. Oleh karena itu kepala menjadi salah satu alat untuk menghalau dan mengarahkan bola. Anggapan lalu yang mengatakan bahwa menyundul bola dengan kepala bisa menyebabkan kerusakan pada otak dan saraf membuat banyak orang menjadi bertanya-tanya karena pemain sepak bola yang kerap kali menggunakan kepalanya terlihat waras-waras saja.

Sebuah penelitian dilakukan untuk melihat adakah hubungan antara kerusakan saraf otak dengan kebiasaan menyundul bola. Diketahui bahwa di dalam cairan otak terdapat zat S-100B. Zat ini adalah molekul organik zat protein yang segera dilepas dalam darah apabila terjadi kerusakan pada otak.

Apabila kerusakan pada otak makin parah, kadar S-100B juga akan meningkat. Para atlet yang memiliki kadar S-100B yang cukup tinggi diperkirakan telah mengalami benturan pada kepala mereka.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Biomaker Insights ini menunjukkan bahwa ternyata menyundul bola tidak akan menaikkan kadar S-100B dalam darah. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan pada akhir tahun 90-an yang menyebutkan bahwa menyundul bola dapat merusak saraf motorik, gegar otak, merusak fungsi otak, dan terganggunya fungsi nalar.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kerusakan fungsi otak tidak terkait dengan menyundul bola. Para peneliti ini akhirnya mempertanyakan metode yang digunakan dalam penelitian sebelumnya. Walaupun penelitian baru ini telah dipublikasikan, masih banyak yang menganut hasil penelitian terdahulu.

Pada tahun 2004 dan 2006 sebuah penelitian kembali dipublikasikan untuk meyakinkan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa peningkatan kadar S-100B berbanding lurus dengan aktivitas menyundul bola. Sayangnya penelitian ini tidak tuntas dan sepotong-sepotong. Para peneliti melupakan analisis secara komprehensif yang juga menyangkut beban latihan.

Kadar S-100B dalam darah pemain sepak bola meningkat setelah mereka bermain dari 0, 10 menjadi 0,15 ug/l. Pasien dengan kerusakan otak yang berat memiliki kadar S-100B, bahkan  jauh lebih besar hingga mencapai 6 sampai 10 kalinya menjadi sekitar 1,0 ug/l. Perubahan kecil pada pemain speak bola itu bukanlah hal yang siginifikan.

Penelitian juga dilakukan terhadap olahraga cabang lain yang tidak mengandung kontak fisik di bagian kepala dan hasilnya, kadar S-100B dalam darah juga meningkat. Kadar zat ini meningkat karena adanya benturan antar tulang atau memar yang timbul pada saat latihan.

Dari hal ini kemudian diambil kesimpulan bahwa kadar S-100B dalam pemain sepak bola bukan disebabkan oleh sundulan di kepala melainkan karena adanya kegiatan fisik yang berat. Profesor ahli saraf otak dari Sahlgrenska Academy, Hanrik Zetterberg, menyetujui penemuan tersebut.

Profesor Zetterberg mengatakan bahwa hasil tes psikologis saraf dan sinar-X menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara menyundul bola dan kerusakan fungsi otak permanen. Zetterberg juga mencari tahu hubungan tersebut dengan menggunakan metode lain yaitu dengan melihat tanda berupa reaksi kimia yang terjadi dalam saraf setelah dilakukan suntikan di tulang belakang. Dan hasilnya adalah nihil.

Zetterberg mengatakan bahwa saat sel dan urat saraf dalam otak mengalami kerusakan, berbagai jenis protein akan dilepaskan dan bisa dideteksi melalui cairan di tulang belakang. Ia mengatakan bahwa protein tersebut tidak dilepaskan karena aktivitas menyundul bola.

Menyundul bola sebanyak apapun tidak akan membuat seseorang mengalami kerusakan atau gegar otak. Buktinya Mario Balotelli masih sehat, bugar, dan kontroversial setelah entah berapa ribu kali ia telah menyundul bola.

Comment di sini