Kampanye Unik Cagub-Cawagub Pilkada Jakarta

by
July 4th, 2012 at 4:13 pm

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta memang tengah heboh di kalangan masyarakat DKI Jakarta. Enam calon Gubernur dan Wakil Gubernur sudah mulai mengkampanyekan diri di depan warga Jakarta. Ingin tahu seperti apa kampanye Cagub DKI Jakarta 2012?

Berdasarkan peraturan, kampanye Cagub dan Cawagub dimulai pada 24 Juni sampai 7 Juli 2012.  Sementara untuk pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta 2012 dimulai pada 11 Juli 2012.

Spanduk dan stiker mulai terpasang di jalan ataupun di taman kota. Uniknya, pemilihan langsung kepala daerah pertama di Jakarta ini tidak hanya sekedar perang spanduk, tapi juga perang kata-kata ataupun pantun. Kreativitas mengolah kata ini digunakan untuk menarik simpati warga sekaligus menyerang kubu lawan.

Salah satunya dari kubu calon bernomor urut 3, Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Berikut pantunnya:

Naek sado ke rawa bangke
Ambil jalan pintas lewat Slipi
Buat apa pilih Foke
Kalau udah ada Jokowi

Pejabat gagah pake safari
Sudah gagah kok belanja daun sawi
Buat apa pilih Faisal Basri
Kalau sudah pasti Jakarta dipimpin Jokowi

Makan pagi di Hotel Sahid
Jangan lupa bawa tusuk gigi
Buat apa coblos Hidayat Nurwahid
Kan sudah ada Jokowi

Jagoan Persia namanya Aladin
Naik permadani warna warni
Siapa yang kenal Alex Noerdin
Semua orang taunya hanya Jokowi

Selain dari Jokowi-Ahok, pantun juga muncul dari kubu pasangan Fauzi Bowo (Foke) dan Nachrowi Ramli:
“Pok ame-ame, belalang Kupu-kupu. Dikeroyok rame-rame, tetap pilih nomor satu.”
“Beli janur di Pasar Manggis, pilih Gubernur yang berkumis”
“Pasar Rebo Pasar Senen, Fauzi Bowo yang paling paten.”
“Satu putaran untuk Jakarta nomor satu.”

Sementara itu, kubu Hendardji Soepandji juga berkampanye lewat permainan kata-kata. Seakan menyindir lawannya, kubu Hendardji memilih slogan “Jakarta Cukur Kumis (Kumuh dan Miskin)”. Sudah jelas, kata “Kumis” merujuk pada salah satu calon Gubernur DKI Jakarta 2012.

Masyarakat Jakarta yang penduduk aslinya Betawi memang punya budaya khas dalam berpantun. Itulah sebabnya para calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012 tersebut memilih pantun untuk berkampanye.

Tapi, apakah kampanye lewat pantun seperti ini tidak menyalahi aturan?

Comment di sini