Pemerintah Filipina Larang Bahasa Alay

by
July 4th, 2012 at 10:32 am

Fenomena bahasa alay ternyata tidak hanya muncul di Indonesia dan Kolombia saja. Di Filipina, penggunaan bahasa alay sudah menjadi salah satu masalah pemerintah yang meresahkan. Pasalnya ini akan merusak generasi muda di Filipina.

Di Filipina, alay biasanya disebut dengan kata jejemon. Kata jejemon sendiri berasal dari dua kata yakni, Jeje dan Pokemon. Kata Jeje mempunya arti tertawa sama seperti kata “ha ha ha”. Sedangkan kata Pokemon berasal dari salah satu judul film kartun yang berisi monster-monster lucu.

Kebayakan remaja Filipina menggunakan bahasa jejemon saat mereka melakukan komunikasi lewat SMS dan jejaring sosial. Biasanya mereka lebih suka mengotak-atik bahasa Inggris. Contohnya, “I miss you” menjadi “iMiszqcKyuh” dan “I love you” menjadi “lAbqCkyOuHh”.

Menteri Pendidikan Filipina, Mona Valisno mengatakan bahwa jejemon perlu dilawan karena dapat memandulkan kemampuan remaja Filipina dalam berbahasa Inggris yang baik dan benar. Menurutnya, bahasa Inggris yang baik dan benar adalah bekal khusus untuk remaja Filipina di era globalisasi ini.

“Menggunakan bahasa Inggris dengan salah itu sangat tidak baik. Yang saya pedulikan adalah mereka mengerti bagaimana berbahasa Inggris yang baik. Ini buat kebaikan mereka sendiri,” ujar Mona Valisno.

Sementara itu, Gary Mariano, dosen dari De La Salle University, Manila, mengaku masih mentoleransi bahasa alay yang digunakan anak didiknya. Namun ia mengaku selalu meminta siswanya untuk berbahasa Inggris yang baik selama di kampus. “Tapi ketika mengirimkan email dan SMS, saya sangat toleran jika mereka menggunakan jejemon,” ujarnya.

Meski sudah dilarang dan ditentang oleh pemerintah Filipina, para remaja di sana masih saja suka menggunakan bahasa jejemon dalam berkomunikasi. Mereka menilai bahasa jejemon sangat mengasyikan dan rahasia.

“Saya tidak mengerti kenapa jejemon jadi masalah besar. Bagi remaja seusia saya, jejemon itu sangat unik dan orisinal. Sangat mudah dibuat dan akan sulit dibaca, terutama oleh orangtua saya,” kata Launder remaja Filipina yang berusia 17 tahun.

Sementara itu, dukungan untuk para jejemon lovers datang dari sebuah Gereja Katolik di Filipina. Menurut Joey Baylon, yang mengepalai Catholic Bishop’s Conference of the Philippines, jejemon adalah salah satu wujud kebebasan dalam berekspresi. Jadi, jejemon tidak perlu dilarang.

“Bahasa itu hanya bentuk ekspresi dan pengalaman. Yang paling penting adalah nilai-nilai yang ada di belakang bahasa itu,” ujar Joey Baylon.

Jika di Filipina bahasa alay atau jejemon dilarang, sementara itu Indonesia bahasa alay tetap bebas beredar dan berkeliaran di kalangan remaja dan merusak tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apakah bahasa alay di Indonesia juga perlu dilarang?

Comment di sini