Andatu dan Ratu Berhasil Lewati Masa Kritis

by
July 5th, 2012 at 4:00 pm

Illustrasi: Akira Kaede / Getty Image

Masih ingat dengan Ratu? Ia merupakan badak betina pertama yang melahirkan secara alami di sebuah penangkaran selama 124 tahun terakhir. Badak betina berusia 13 tahun tersebut melahirkan secara alami di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Sabtu (23/6) lalu.

Proses melahirkan Ratu yang tergolong langka tersebut sempat menjadi perhatian dunia. Kini, Kamis 5 Juli 2012, anaknya yang diberi nama Andatu baru saja melewati masa kritis.

Koordinator Suaka Rino Sumatera (SRS) Balai Besar Taman Nasional Way Kambas (BBTNWK) Lampung Timur, dr Dedy Chandra mengatakan bahwa Andatu dan induknya sudah dalam kondisi sehat. Tali pusar Andatu telah kering dan terlepas secara alami setelah tiga hari masa kelahirannya. Rim ahli yang datang dari luar negeri pun telah kembali ke negara masing-masing karena Andatu dan Ratu dinilai sudah cukup sehat untuk ditinggal.

Andatu diperkirakan kini memiliki berat 30 kilogram. Nama Andatu sendiri diberikan oleh Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan. Nama tersebut merupakan gabungan dari Andalas dan Ratu yang merupakan induknya. Selain itu, nama Andatu juga berarti ‘Anugerah Dari Tuhan’.

Sejauh ini, hanya tim SRS yang tetap berada di lokasi untuk menjaga agar asupan gizi bagi sang induk tetap lancar. Kini, Ratu membutuhkan banyak gizi agar dapat memproduksi air susu demi pertumbuhan Andatu. Keberadaan mereka di sana pun masih harus dipantau. Mereka menjaga agar Andatu tidak kontak lansung dengan manusia atau makhluk lainnya. Karena jika hal demikian terjadi, maka induk tidak akan mau mendekati anaknya lagi.

Andatu menjadi badak kelima yang menghuni TNWK. Empat hewan bercula yang menghuni TNWK lebih dulu adalah Bina (27 tahun) yang berasal dari Bengkulu, Rosa (12) yang berasal dari Bukit Barisan Selatan, Ratu–induk dari Andatu– yang berusia 13 tahun, serta Andalas–induk jantan Andatu– yang berasal dari Amerika Serikat.

“Keempat badak ini, hidup dalam penangkaran secara masing-masing dengan dibatasi pagar listrik sepanjang 100 hektare di kawasan ini,” ujar Dedi seperti dikutip dari Antara.

Comment di sini