Rokok, Kebutuhan Pokok Kedua Setelah Beras

by
July 5th, 2012 at 2:00 pm

Nicholas Eveleigh / Getty Image

Dalam sebuah wawancara dengan Radio Australia, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan bahwa 70% perokok di Jakarta merupakan keluarga miskin.

Para perokok tersebut menghabiskan 12,4% dari pendapatan mereka untuk membeli rokok. Sedangkan konsumsi beras mereka menghabiskan 19% dari penghasilan mereka. Hal ini menjadikan kebutuhan merokok prioritas kedua setelah kebutuhan akan mengonsumsi beras.

Hal inilah yang menjadikan kebutuhan lain seperti kesehatan dan pendidikan menjadi dikesampingkan. Ketika suatu saat mereka membutuhkan dana untuk biaya pengobatan, seringkali mereka tidak memiliki uang. Begitu juga dengan pendidikan, mereka, keluarga miskin yang merupakan perokok, mengalami kesulitan untuk mendapatkan dana.

Survei yang diadakan oleh YLKI juga mengungkapkan bahwa 87% kendaraan umum di Jakarta masih dipenuhi oleh para perokok. Padahal, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memberlakukan larangan merokok di tempat-tempat umum seperti kendaraan umum, rumah sakit, perkantoran, perbelanjaan, dan sebagainya.

Menurut Tulus, banyaknya perokok yang melanggar peraturan Pemprov DKI Jakarta adalah karena kurangnya penegakkan hukum. Sementara penegakkan hukum tersebut hampir mustahil dilakukan karena kurangnya faktor penunjang.

“Bagi yang kedapatan melanggar area dilarang merokok. Ada pidana denda dan pidana kurungan. Problemnya kalau pidana kurungan, pihak LP atau Kejaksaan, mereka mengaku tidak mungkin menangkap dan memenjara orang merokok karena penjaranya nggak cukup,” ujar Tulus dalam wawancara yang dilakukan pada Kamis (5/7) tersebut.

Sementara, banyak pelanggar yang merokok di tempat umum telah mengetahui hal ini dan lebih memilih untuk dipidana daripada harus mengeluarkan uang.

Wah, kalau sudah begini, bagaimana cara menertibkan mereka?

Comment di sini