Wow! Sehebat Itukah “Viagra” Himalaya?

by
July 10th, 2012 at 11:09 am

Tibetsun/David Gerard

Ribuan orang datang ke Dolpa, Nepal, setiap tahun hanya untuk memanen jamur yang sering disebut sebagai “viagra Himalaya”. Jamur ini mempunya harga jual yang tinggi karena dianggap sangat bermanfaat untuk kebugaran kaum pria.

Jamur tersebut sebenarnya termasuk sebagai jamur ulat atau dalam bahasa lokal sering disebut sebagai yartsa gunbu. Uniknya jamur ini hanya tumbuh di sekitar pegunungan Himalaya dan berfungsi sebagai obat kuat bagi kaum pria.

Yastra gunbu mempunyai arti “rumput musim panas, cacing musim dingin”. Jamur ini merupakan parasit yang menginfeksi ulat bawah tanah. Setelah menginfeksi ulat di bawah tanah, jamur akan keluar menyembul dari tanah. Tonjolan kecil inilah yang akan dipanen pada minggu-minggu selama musim semi.

Karena ukurannya yang kecil, para pemburu jamur akan merangkak di tanah untuk memanennya. Mereka akan langsung menjual jamur temuannya kepada para pemasok yang sudah bersiap di lokasi. Satu bungkah jamur kecil dihargai dengan US$ 3. Para pemasok ini nantinya akan menjual jamur di pasar Tibet dengan harga tiga kali lipat.

Menurut seorang ahli, nilai pasar yartsa gunbu telah meningkat 900 persen terhitung sejak 1997 sampai 2008. Sebanyak 500 gram yartsa gunbu kualitas terbaik dijual sampai US$ 13 ribu di Lhasa, Tibet. Sementara di Shanghai, China, 500 gram yartsa gunbu dijual hingga US$ 26 ribu.

Meski harga jual jamur yasrtsa gunbu sangat tinggi, namun pendapatan tahunan rata-rata pemanen jamur yang tinggal di pedesaan Nepal, hanya US$ 283. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding dengan harga jual “viagra Himalaya” yang mereka panen itu.

Namun, hal itu tidak menyurutkan niat sebagian penduduk untuk pindah ke pedesaan tempat jamur itu dipanen. Mereka mengaku sangat tergiur dengan uang yang dihasilkan dari panen yartsa gunbu. “Orang-orang di desa kami berbicara tentang uang yang akan diterima, jadi kami datang,” kata Ram, seorang warga.

Menurut Polisi di Dolpa, ada 40 ribu orang bermigrasi ke wilayah mereka tahun ini. Masuknya imigran pemanen ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga jual global dari yartsa gunbu.

Sementara itu, Daniel Winkler seorang ahli jamur menyatakan panen berlebih akan mengakibatkan kelangkaan pada jamur yartsa gunbu. Pasalnya spora jamur yang tersedia untuk musim depan akan lebih sedikit dan terus berkurang seiring dengan pemanenan.

Untuk mencegahnya, Winkler berharap masyarakat lokal bisa belajar mengenai pengembiakan jamur. Jika penyebaran spora terganggu, maka jamur generasi baru tidak akan muncul lagi. Ia berharap agar masyarakat lokal bisa segera sadar dan mau memperhatikan kelangsungan dari jamur obat kuat Yartsa Gunbu.

Comment di sini