Kasihan! Bocah Berjari 24 Ini Sakit Paru-paru

by
July 13th, 2012 at 9:51 am

Kompas/Herlambang Jaluardi

Bandung (CiriCara.com) - Bocah berjari 24, Putri Rahmadania (2) terpaksa harus bolak-balik ke puskesmas karena menderita paru-paru basah. Putri yang punya 6 jari di setiap tangan dan kakinya ini sudah sakit sejak ia lahir.

Kustini Amalia (29), ibunda Putri mengatakan bahwa paru-paru anaknya kemasukan air ketuban saat dalam kandungan. Karena itulah Putri mengalami masalah dibagian paru-parunya dan seringkali mengalami sesak napas.

Kedua orangtua Putri yang tinggal di Kampung Babakan RT 4 RW 6, Desa Cipagalo, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, tidak bisa membawa Putri ke dokter ahli karena keterbatasan biaya. Pasalnya untuk pengobatan paru-paru basah mereka harus menyiapkan dana sebesar Rp 25 juta.

Agus Hamdani (29), ayah Putri, mengtakan, dulunya seorang dokter yang melakukan USG mendapati bahwa bayi yang dikandung istrinya terlihat lebih kecil dari ukuran normal. Karena alasan itulah, dokter itu menyarankan Agus untuk membawa istrinya bersalin di RS Hasan Sadikin Bandung.

“Ternyata, bobot bayi saya setelah lahir cukup normal, sekitar 2,8 kilogram. Hanya jari tangan dan kakinya berjumlah enam,” lanjut Agus, seperti dikutip dari Kompas, Jumat (13/7/2012).

Namun, lanjut Agus, Putri sering sesak napas setelah ia lahir. Bahkan, badan Putri sampai membiru dan dingin terkadang juga sampai pingsan. Karena sering sesak napas, badan Putri yang kini berusia 2 tahun pun sering lemas. Bahkan putri sering terjatuh tiba-tiba dan kepalanya terbentur.

Kustini lalu mengatakan pihak rumah sakit pernah memintanya untuk menjalani pemeriksaan dengan cara EEG (electroencephalography) di kepala Putri. Namun, lagi-lagi masalah keuangan menjadi penghalang utama keluarga Putri.

“Tapi katanya biaya sampai Rp 500.000 sekali periksa. Dan pemeriksaannya tidak cukup satu kali,” kata Kustini. Padahal, untuk mengobati paru-paru basah Putri, Rp 25 juta mereka belum punya.

Karena itulah, pengobatan Putri hanya bisa dilakukan di puskesmas terdekat yang lebih murah dari rumah sakit. Itupun dilakukan hanya saat Putri sakit saja. Apalagi Agus sebagai tulang punggung keluarga hanya bisa menghasilkan Rp 250 ribu perpekan.

Kustini menuturkan, obat yang diberikan puskesmas untuk Putri kadang-kadang manjur. Namun, tak jarang Putri jadi muntah-muntah setelah meminum obat puyer tersebut.

Karena ingin mendapat bantuan dana berobat, Agus dan Kartini serta anak laki-lakinya, Aksal (4), membawa Putri untuk bertemu dengan DPRD setempat. Mereka akhirnya bertemu dengan Komisi E DPRD Provinsi Jawa Barat untuk meminta bantuan dana untuk berobat Putri. (YG)

Comment di sini