CiriCara: Menghadapi Modus Kejahatan Baru di Jalan Raya

by
July 17th, 2012 at 1:12 pm

Jacom Stephens / Getty Image

Jakarta (CiriCara.com) – Tingginya angka pengangguran dan sulitnya mencari pekerjaan disinyalir menjadi penyebab munculnya berbagai modus kejahatan baru di Jakarta. Seperti yang dialami Eman dan empat orang temannya. Mereka menjadi korban kejahatan yang berhasil menguras harta benda mereka.

Ketika itu Eman sedang mengendarai sebuah Sport Utility Vehicle (SUV) bersama empat orang temannya. Mereka hendak pulang ke tempat kost di daerah Radio Dalam, Jakarta Selatan. Di jalan Pati Unus, mereka tiba-tiba dihentikan oleh sebuah mobil lalu delapan orang keluar dari mobil tersebut dan menggeledah Eman beserta teman-temannya.

Eman, yang belum pernah mengalami hal ini sebelumnya, tidak berani melawan ketika komplotan yang mengaku sebagai aparat tersebut membawa mereka ke sebuah hotel di daerah Pluit. Pasalnya, mereka mengaku menemukan sebutir pil ekstasi di dalam mobil Eman. Ia memastikan bahwa ekstasi yang ditemukan para tersangka bukan dari dirinya atau teman-temannya. Namun, mereka tidak menolak dibawa karena diancam akan di-tes urine.

Penampilan para pelaku cukup meyakinkan, Eman yang berusia 22 tahun tersebut mengalami ketakutan luar biasa karena sempat diborgol. Ia juga mengaku mengalami trauma sehingga tidak melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

“Waduh, masih trauma kalau ingat kejadian itu. Yang ada keluarga saya melakukan terapi buat saya atas kejadian itu,” ujarnya seperti dikutip dari mobilotomotifnet.com.

Modus seperupa memang tengah menjadi momok bagi para pengendara di Jakarta. Calon korban dituduh sebagai pemakai narkoba, kemudian korban yang sedang ketakutan dikuras hartanya karena diancam akan diproses secara hukum. Untuk bisa menguras habis harta bendanya, mereka biasanya dibawa ke suatu tempat yang lebih sepi.

Menanggapi kejadian ini, Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) mengatakan bahwa modus tersebut dikarenakan seringnya jajaran polisi menggelar razia yang tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Menurut SOP, dalam melakukan razia, seharusnya polisi terdiri dari minimal 8 petugas dengan satu perwira pendamping dan dilengkapi dengan papan razia, lampu kelap kelip, dan surat tugas serta dilakukan di tempat yang terang. Neta berpendapat bahwa polisi gadungan tersebut meniru oknum polisi yang sering menggelar razia ilegal.

Sementara itu, Kompol Arie Ardian R, Sik yang menjabat sebagai Kasubdit Ranmor Polda Metro Jaya menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan dengan stigma masyarakat Indonesia yang takut kepada kepolisian sehingga tidak berani menanyakan kelengkapan identitas atau surat tugas. Ia menghimbau masyarakat untuk tidak segan menanyakan identitas petugas.

“Menanyakan identitas, baik kepada polisi yang berseragam maupun tidak, adalah hak masyarakat, dan nggak perlu takut lagi,” ujarnya.

Terakhir, Arie memberikan tips untuk menghadapi situasi melawan kejahatan dengan modus serupa. Selain menanyakan kartu identitas dan surat tugas petugas, Arie menyarankan untuk menarik perhatian warga dengan berteriak minta tolong atau membunyikan klakson, tidak membuka pintu atau kaca jendela jika mobil digedor, dan menyimpan nomor telepon penting seperti kepolisian terdekat dari jalur yang biasa dilewati sehari-hari. (dd)

Comment di sini