Warga Tionghoa Punya Menu Khas Ramadhan

by
July 23rd, 2012 at 10:19 am

Ilustrasi

Jakarta (CiriCara.com) – Setiap bulan Ramadhan datang, berbagai menu khas untuk berbuka puasa mulai bermunculan. Salah satunya adalah menu khas Ramadhan dari warga Tionghoa yang laris manis diburu pada saat menjelang waktu buka puasa.

Jejongkong, kuliner warisan warga Tionghoa yang menjadi incaran umat Islam di Bandar Lampung saat Ramadhan tiba. Menurut warga setempat, jejongkong buatan Mei Hwa (60) ini bisa dengan cepat memulihkan tenaga setelah seharian berpuasa.

“Energi bisa langsung pulih dengan semangkuk bubur jejongkong,” kata Audatul Fitriah (35) warga Telukbetung Selatan, Bandar Lampung seperti dikutip dari Tempo.

Awalnya, jejongkong merupakan resep keluarga besar Mei Hwa yang dibawa dari negeri Tiongkok. Bubur jejongkong ini biasanya dihidangkan untuk anggota keluarga yang baru sembuh dari sakit. Dan memang, jejongkong bisa memulihkan stamina dengan baik.

“Stamina akan cepat pulih jika makan jejongkong. Itu karena makanan ini banyak mengandung kalori,” kata Cik Niget, adik Mei Hwa yang ikut serta dalam menjual jejongkong.

Jejongkong buatan Mei Hwa ini terkenal dengan rasa gurih, manis, dan kenyal saat di santap. Bubur ini dibuat dengan bahan yang sama seperti bubur lainnya yakni, tepung beras, ketan, santan, dan gula aren. Kelebihan yang membuat jejongkong ini lebih enak adalah terbuat dari bahan alami.

Sejak awal pembuatannya, Mei Hwa memang selalu memanfaatkan bahan alami untuk jejongkongnya. Misalnya pewarna hijau di jejongkong ia buat dari daun pandan dan suji. Bahkan gula aren ia pesan langsung dari pengrajin dan terjamin kemurniannya.

Mei Hwa setiap hari memang sudah memproduksi jejongkong. Namun, khusus bulan Ramadhan produksi jejongkong dinaikkan dari jumlah biasanya. Mei Hwa yang biasanya membuat 400 bungkus ukuran kecil, di Ramadhan ia menjual 2000 bungkus setiap hari.

Ia merasa bersukur dengan datangnya bulan Ramadhan meski dia bukan orang Islam. “Berkah Ramadhan. Semua rezeki dibagi ke semua umat,” kata Mei Hwa pemeluk agama Buddha.

Harga satu bungkung jejongkong buatan Mei Hwa ini dijual Rp 6.000. Harga itu memang lebih mahal dari harga jejongkong pada umumnya yakni Rp 4.000 per bungkus. Menurut Mei Hwa harga tinggi ini dipengaruhi oleh kualitas dan cara pembuatan jejongkong miliknya.

Untuk membuat jejongkong, Mei Hwa butuh waktu empat jam lebih. Belum lagi bahan yang digunakan adalah bahan alami, jadi wajar saja jika harganya lebih mahal dari jejongkong biasa.

Bagaimana, tertarik untuk berbuka puasa dengan jejongkong buatan Mei Hwa? (YG)

Comment di sini