Riwayat Pembantaian Muslim Rohingya Sejak Abad ke-8

by
July 30th, 2012 at 11:12 am

CiriCara.com - Entah sudah berapa ratus, atau bahkan ribuan, kutukan yang dilontarkan terhadap aksi pembantaian kaum Muslim Rohingya di Myanmar.

Yang terbaru dari Indonesia, salah satu anggota DPR Fraksi PKS, Indra, melancarkan serangan verbal terhadap kekejian “militer dan berandal sipil Myanmar” yang “direstui pemerintah Myanmar” tersebut.

Seperti diberitakan oleh JPNN.com, ia memandang kekerasan dan intimidasi atas kaum Muslim Rohingya merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat.

Ia mengungkapkan pembantai Muslim Rohingya telah dilakukan sejak dulu. Hanya, akhir-akhir ini pembantaian itu menjadi semakin marak dengan total korban mencapai 6000 orang menurutnya.

Menurut catatan Wikipedia yang bersumber dari artikel berjudul The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of Burma (Myanmar), pemukiman Muslim di Arakan yang menjadi basis terbesar Muslim Rohingya telah ada sejak kedatangan bangsa Arab pada abad ke-8. Waktu itu, negara Burma (Myanmar) belum terbentuk.

AP

Ketika Kerajaan Burma menyerang Arakan pada 1785, kira-kira 35.000 penduduk Arakan melarikan diri ke Chittagong, Bangladesh, untuk mencari perlindungan dari pemerintah Inggris di India.

Ribuan penduduk Arakan dieksekusi dan dipindahkan secara paksa ke kawasan Myanmar bagian tengah. Menurut artikel berjudul Burma Empire yang diterbitkan oleh Francis Buchanan-Hamilton pada 1799, para penduduk Arakan menyebut diri mereka sebagai “Rooinga” atau “penduduk asli Arakan.”

Saat Inggris menjajah Myanmar, pemerintahnya mengajak para penduduk di Bengal, Bangladesh, untuk bermigrasi ke Arakan karena wilayah tersebut memiliki penduduk yang amat sedikit.

Para migran lalu menetap sebagai petani di wilayah Arakan yang amat subur tersebut. Pada 1911, populasi umat muslim di Arakan mencapai 178.647 jiwa.

Namun, saat Jepang menginvasi Myanmar pada 1940-an awal, Muslim Rohingya kembali mengalami kekerasan yang berujung pada pembantaian massal. Menurut catatan Kurt Jonassohn di artikel Genocide and gross human rights violations: in comparative perspective, tentara Jepang melakukan pemerkosaan, pembunuhan dan penyiksaan terhadap etnis Rohingya.

Para kaum nasionalis Myanmar juga melakukan hal serupa terhadap Muslim Rohingya pada periode tersebut sehingga mengakibatkan sebanyak 40.000 penduduk Rohingya melarikan diri ke Chittagong.

Setelah Perang Dunia II berakhir, umat Muslim Rohingya sempat membuat pasukan jihad untuk melawan para penindasnya.  Namun, setelah Myanmar dikuasai junta militer, penduduk minoritas termasuk Muslim China dan etnis Kokang kembali mengalami penindasan dan pasukan jihad bubar. Salah satu alasan kenapa etnis minoritas diintimidasi adalah karena mereka dianggap sebagai bukan bagian dari negara Myanmar.

Kabar kekerasan yang menimpa penduduk minoritas di Myanmar nyaris tak terdengar karena ketatnya pengamanan negara saat pihak militer berkuasa.

Ketika Myanmar beralih menjadi negara demokrasi dengan  menonjolnya ketokohan pejuang HAM, Aung San Suu Kyi, berita tentang pembantain Muslim Rohingya kembali menyeruak.

Pada awal Juni 2012, pecah konflik antara Muslim Rohingya dan penduduk asli Rakhine.  Kerusuhan yang terjadi mengakibatkan tumpahnya darah di kedua belah pihak. Antara Juni-Juli 2012, telah terjadi beberapa kali kerusuhan. Pihak militer dan kepolisian Myanmar diduga ikut terlibat dalam kerusuhan ini.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebanyak 90.000 Muslim Rohingya terancam kehidupannya oleh adanya kerusuhan tersebut.

Aung San Suu Kyi yang disebut-sebut sebagai pejuang HAM yang tangguh pun dikritik oleh dunia internasional karena diam seribu bahasa atas dugaan pembantaian terhadap Muslim Rohingya. Seperti dikabarkan Guardian, Suu Kyi mengaku tak tahu apakah Muslim Rohingya bisa dianggap sebagai warga negara Myanmar.

Kabar pembantaian Muslim Rohangya masih menjadi sorotan dunia internasional, terutama negara yang mayoritas penduduknya merupakan penganut agama Islam.

Para Muslim Rohingya mengungsi ke sejumlah negara seperti Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia karena aksi keji tersebut. Namun, Bangladesh menolak menerima kedatangan imigran ini. (hp)

Comment di sini