MUI: Penukaran Uang Saat Mudik Bisa Riba dan Haram

by
August 2nd, 2012 at 3:55 pm

Surabaya (CiriCara.com) – Membagi-bagikan uang kepada anggota keluarga saat lebaran sudah menjadi tradisi khas umat muslim di Indonesia. Karena tradisi ini, jasa tukar menukar uang dengan pecahan lebih kecil menjadi populer menjelang lebaran.

Ketua Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Abdushomad Buchori menghimbau umat Islam untuk tidak melakukan praktek penukaran uang secara riba. Praktek riba adalah penukaran uang dengan prinsip jual beli yang marak menjelang lebaran.

“Misalnya tukar uang Rp 100 ribu, dapatnya hanya pecahan Rp 90 ribu. Itu namanya riba dan haram hukumnya,” kata Buchori, seperti dikutip Tempo, Kamis (2/8/2012).

Buchori menjelaskan, dalam agama Islam, penukaran uang dengan adanya selisih termasuk praktek riba. Sedangkan hukum riba untuk umat muslim adalah haram. Untuk itu MUI meminta umat muslim untuk tidak melakukan penukaran uang secara riba.

Namun, MUI sebenarnya tidak melarang praktek tukar menukar uang asalkan tidak riba. MUI juga memberikan cara agar tukar menukar uang tidak menjadi riba. Caranya, jika Anda menukar uang Rp 100 ribu, maka uang yang dikembalikan kepada Anda jumlahnya sama yakni Rp 100 ribu.

Setelah itu, Anda bisa memberikan uang sebagai imbalan untuk si penyedia jasa penukaran uang tersebut. Tapi, nilai pemberian imbalan tidak boleh ditentukan alias harus ‘seikhlasnya’. Jika si penyedia jasa penukar uang sudah menentukan jumlah imbalan yang diinginkan, itu artinya Anda sudah riba.

“Kalau pemberian (imbalan) jasanya telah ditentukan misalnya Rp 10 ribu tiap penukaran Rp 100 ribu, itu namanya riba,” jelas Buchori.

Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Kiai Abdurahman Navis juga menyampaikan hal yang sama. Ia mengatakan bahwa hukum riba dalam agama Islam sudah sangat jelas yakni, haram. ”Jadi tidak perlu lagi fatwa untuk ini, hukumnya jelas riba itu haram,” katanya.

Karena itu, Navis juga meminta kepada umat muslim untuk berhati-hati saat melakukan penukaran uang. Sependapat dengan MUI, penukaran uang hanya bisa dilakukan jika nominal uang yang ditukar adalah sama.

Untuk menghindari praktek riba, disarankan untuk menukar uang melalui bank bukan melalui jasa penukaran uang yang ada di jalanan saat musim mudik tiba. Pasalnya jasa penukaran uang yang ada di pinggir jalan seringkali mengandung unsur riba. (YG)

Comment di sini