Inilah Perbedaan Sunni dan Syiah

by

Republika

Jakarta (CiriCara.com) – Baru-baru ini telah terjadi bentrok di Sampang, Madura, Jawa Timur. Bentrok ini melibatkan dua kelompok Islam yang menganut mazhab berbeda yakni, Sunni dan Syiah. Sebenarnya apa sih perbedaan aliran Sunni dan Syiah itu?

Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, mengungkapkan perbedaan antara Sunni dan Syiah. Menurutnya ada satu perbedaan yang mendasar dan sering menjadi pemisah antara Sunni dan Syiah.

Jalaluddin mengatakan bahwa Sunni memiliki empat mazhab yakni, mazhab Hambali, Syafi’i Maliki, dan Hanafi. Di mana keempat mazhab tersebut mempunyai ajaran yang sama.

Berikut perbedaan Sunni dan Syiah:

1. Perbedaan hadist

Menurut Jalaluddin, aliran Sunni percaya pada hadist yang berasal atau diriwayatkan oleh sahabat nabi seperti Abu Hurairoh. Sedangkan aliran Syiah lebih percaya pada hadist yang diriwayatkan Ahlul Bait (keluarga Nabi Muhammad SAW).

Jalaluddin mengatakan, sebenarnya kedua hadist baik dari sahabat nabi atau Ahlul bait semuanya mempunyai kebenaran yang sama. “Jadi bukan berarti ajaran Sunni itu salah, dan Syiah sebaliknya,” katanya.

2. Perbedaan politik

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farzandeh mengungkapkan perbedaan Sunni dan Syiah ketika ia menghadiri seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta. Farzandeh menyebut “perbedaan Sunni dan Syiah di Iran lebih bermuatan politik.”

3. Perbedaan akidah

Seperti dikutip VOA-Islam, pakar Syiah Prof. DR. Mohammad Baharun menilai Sunni dan Syiah punya perbedaan akidah. Pasalnya kedua aliran ini sering terlibat masalah akidah satu sama lain. Syiah yang suka melaknat para sahabat Nabi dan istri-istrinya. Sedangkan Sunni menganggap para sahabat itu adalah penerus kenabian. Doktrin ini sudah terjadi sejak dulu, jadi sulit untuk menghapus perbedaan ini.

Meskipun punya perbedaan, Pandu Iman Sudibyo, salah satu penganut Syiah di Bengkulu mengungkapkan bahwa Syiah dan Sunni sebenarnya bisa tetap hidup rukun. Terbukti, di tempatnya Sunni dan Syiah sering bersama-sama melakukan perayaan tabot untuk menghormati kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu nabi, yang bertepatan dengan hari Asyuro (10 Muharram).

“Kami hidup rukun dan kami lebih mengedepankan rasional,” ujar Sudibyo yang juga merupakan ketua IJABI Bengkulu.

Tapi, apakah Sunni dan Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur bisa berdamai seperti di Bengkulu?

(YG)


comments powered by Disqus