Selain ke Brasil dan Cina, DPR Juga Akan Plesir ke Jerman dan Jepang

by
August 28th, 2012 at 11:19 am

Jakarta (CiriCara.com)Studi banding anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) nampaknya akan menempuh rute yang panjang. Selain berkunjung ke Cina dan Brasil, anggota DPR juga akan berkunjung ke Jerman dan Jepang.

Wakil Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Daerah Khatibul Umam Wiranu mengatakan kunjungan akan dilakukan bulan depan. Sekitar 16 anggota DPR siap plesir ke Jerman selama enam hari mulai 23 September mendatang.

Namun, rencana kunjungan anggota DPR ke Jepang saat ini belum dihabas. “Mungkin setelah rese dibahas lagi,” ujar Umum yang merupakan politikus Partai Demokrat seperti dikutip Tempo, Sabtu (25/8/2012) lalu.

Umam menjelaskan Jerman dipilih menjadi rujukan karena memiliki sistem pemerintahan yang baik. Nantinya para anggota DPR yang berkunjung akan mempelajari sistem pemerintahan daerah, hubungan pemerintah pusat-daerah, serta pengelolaan keuangan di daerah.

Sebelumnya, Sabtu 25 Agustus 2012 dini hari, sebanyak 13 anggota Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Desa sudah berangkat ke Brasil selama tujuh hari. Kunjungan ini merupakan kunjungan lanjutan dari studi banding ke Cina (6-12 Juli lalu). Kunjungan yang dipimpin Wakil Ketua Panitia Khusus dari Partai PDI-P Budiman Sudjatmiko ini menghabiskan dana Rp 1,629 miliar.

Yang mengherankan, ada anggota Panitia Khusus yang sudah ikut ke Brasil dan akan ikut lagi ke Jerman, dia adalah Abdul Gafar Patappe. “Saya ikut studi banding ke Jerman September nanti,” ujar Abdul Gafar Pattape kepada Tempo.

Rencananya, rancangan Undang-Undang Desa dan Revisi Undang-Undang Pemerintah Daerah akan dibahas paralel di DPR. Meski ada dua Panitia Khusus, tapi anggotanya sama saja.

Tidak jauh berbeda dari kunjungan sebelumnya, studi ke Jerman juga mendapatkan kritik dari banyak pihak. Salah satunya adalah Direktur Eksekutif Indonesia Budget Center Arif Nur Alam. Menurutnya, kunjungan ke Cina, Brasil, Jerman, dan Jepang hanya akan memperburuk citra DPR.

Arif menilai seharusnya DPR tidak perlu berbondong-bondong datang ke negara orang. Karena penelitian bisa langsung diserahkan ke staf ahli untuk melakukan riset. “Ini hanya akal-akalan DPR menghabiskan anggaran,” katanya.

Sementara itu, Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi August Mellaz menilai kunjungan DPR ke Jerman tidaklah tepat. Pasalnya, Jerman dan Indonesia menganut sistem pemerintahan yang berbeda. Karena itulah Mellaz mengaku heran dengan pemikiran para anggota dewan itu.

“Kita tidak tahu apa pertimbangan mereka (DPR). Jerman kan dasarnya menganut federalisme,” kritik Mellaz. (YG)

Comment di sini