Ada Sesuatu di Balik Dana Hibah Amerika untuk Kemenkes?

by
September 4th, 2012 at 10:03 am

Jakarta, (CiriCara.com) – Kedatangan Hillary Clinton, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat ke Jakarta, kemarin, Senin, 3 September 2012 membawa serta dana hibah sebesar US$ 28 juta atau sekitar Rp 266 miliar melalui lembaga nirlaba Amerika Serikat, United States Agency for International Development (USAID) untuk program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) di Departemen Kesehatan (Depkes) Indonesia.

Rencananya, anggaran tersebut akan digunakan untuk mendanai proyek EMAS di puluhan kabupaten yang tersebar di sebagian besar provinsi di Indonesia seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur. Ada beberapa Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) yang akan turut serta dalam proyek ini seperti JHPIEGO, Research Triangle Institute, Save the Children, Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan, dan Muhammadiyah.

Seperti yang telah direncanakan sejak awal, program EMAS ini bertujuan murni untuk menurunkan angka kematian Ibu melahirkan serta bayinya hingga 25 persen. Namun, Rieke Diah Pitaloka, salah satu anggota Komisi IX DPR, menduga ada motif tersembunyi di balik bantuan ini karena prosesnya tidak transparan.

Hibah sebesar itupun belum pernah dibahas dan mendapat persetujuan langsung dari DPR kecuali setelah anggaran untuk proyek EMAS cair. Lagipula, anggaran yang sedianya ditujukan untuk Departemen Kesehatan itu disalurkan melalui LSM dan tidak melalui badan-badan Kementerian Kesehatan milik Pemerintah. Menurut Rieke, seperti yang dikutip dari Tribunnews.com, daerah-daerah yang mendapat bantuan program EMAS tersebut adalah daerah-daerah yang memiliki pengelolaan kesehatan yang baik sehingga program ini juga dinilai salah sasaran.

Keanehan lain menurut Rieke adalah ketika dana yang digelontorkan untuk program penurunan kematian ibu dan bayi tersebut tidak sampai ke target yang sebenarnya. Penerima dana hibah tersebut adalah mereka yang bertugas mengawasi Jaminan Persalinan atau Jampersal yang telah masuk ke anggaran APBN.

Menurut Rieke lagi, kompensasi untuk bantuan jutaan dollar ini tentu saja patut dicurigai karena keberadaan Namru, Laboratorium Kesehatan AS di Indonesia. Laboratorium ini diduga menjadi alat tersembunyi untuk mengumpulkan data-data kesehatan warga Indonesia guna kepentingan industri farmasi Amerika Serikat dan produksi senjata biologis di masa depan. (RN)

Comment di sini