Cukai Naik, Harga Rokok Bakal Ikut Naik

by
September 5th, 2012 at 11:11 am

Jakarta (CiriCara.com)Kabar tidak menyenangkan akan menghampiri para perokok mulai 1 Januari 2013. Berlaku sejak tanggal tersebut, tarif cukai rokok akan naik 7-10 persen atau 2,2 persen lebih rendah dari kenaikan cukai tahun ini. Konsekuensinya, harga rokok juga akan naik.

Dikutip dari JPNN.com, Selasa, 4 September 2012, Agus Martowardojo selaku Menteri Keuangan menyatakan bahwa pemerintah akan menaikan cukai rokok sesuai roadmap produksi hasil tembakau. Berdasarkan roadmap tersebut pemerintah telah mempertimbangkan tiga dimensi pada seluruh produk hasil  tembakau.

Pertama, rokok berperan sebagai salah satu sumber penerimaan negara. Kedua, rokok menyerap tenaga kerja yang besar sedangkan yang ketiga berhubungan dimensi kesehatan. Produksi rokok selama ini banyak menuai kontroversi karena telah mengganggu kesehatan konsumennya.

Dalam menaikkan tarif cukai rokok ada perbedaan pada beberapa jenis rokok. Menurut Agus, produksi rokok kretek yang menyerap banyak tenaga kerja karena dibuat manual akan mendapat kenaikan cukai yang lebih rendah.

Pendapatan pemerintah dari industri rokok ini relatif besar. Agus menyatakan bahwa dalam APBN 2012, pemerintah menarget pendapatan cukai hasil tembakau rokok jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar Rp. 48,67 triliun yang ditetapkan berdasarkan produksi sekitar 155,5 batang rokok per tahun. Rata-rata tarif cukai Rp. 313 per batang.

Sedangkan untuk Sigaret Putih Mesin sebesar Rp. 4,56 triliun dengan batasan produksi 16,5 miliar batang per tahun dengan tarif rata-rata cukai Rp. 277 per batang. Di sisi lain, penerimaan cukai untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) sekitar Rp. 15,8 triliun dengan batasan produksi 96,4 miliar batang per tahun dengan rata-rata cukai Rp. 164 per batang.

Melihat fakta tersebut, tidak heran jika industri rokok memberi kontribusi besar terhadap pundi penerimaan negara dari biaya cukai. Bahkan nilai yang dicapai industri rokok inipun menembus Rp. 50 triliun per Agustus 2012.

Oleh karena itu, walau rokok juga menyumbang angka kematian tinggi terhadap konsumen, pemerintah masih enggan menutup industri ini karena ada beberapa sisi lain yang perlu dipertimbangkan seperti sektor pendapatan dan sektor tenaga kerja. Penutupan industri rokok mungkin akan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia. (RN)

Comment di sini