PON 2012: Tidak Diakui, PSSI Tuding KONI Ikut Campur

by
September 10th, 2012 at 10:34 am

Jakarta (CiriCara.com) – PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin ternyata mendapat penolakan di Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-XVIII, Pekanbaru, Riau. Menurut pihak PSSI, semua itu disebabkan karena adanya konspirasi antara Panpel PON dengan KONI Pusat dan Baori.

“Kami diusir dari lapangan. Semua perangkat pertandingan PSSI, pun ikut diusir. Tapi nyatanya, mereka (KONI dan Baori) sudah berkumpul di tengah arena pertandingan dan ikut mengurusi semua hal-hal teknis yang bukan wewenangnya,” ujar Saleh Ismaill Mukadar seperti dikutip Tribunnews.

Saleh Mukadar sendiri merupakan Deputi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Bidang Kompetisi dan Koordinator pertandingan sepakbola di PON XVIII.

Saleh menuturkan bahwa semua kisruh yang terjadi di PON XVIII, Riau, berawal dari campur tangan KONI Pusat dan Baori melalui Panitia Besar (PB) PON. Bahkan, menurutnya KONI dan Baori telah berkonspirasi untuk menjelekkan nama PSSI di hadapan PB PON.

Pertandingan sepak bola tim Kalimantan Selatan, Jawa Barat, dan Jambi yang dipimpin PSSI juga dianulir. Padahal ketiga tim tersebut sudah terdaftar di PB PON. “Namun, bisa dianulir karena campur tangan KONI Pusat dan Baori. Semuanya menjadi kacau, karena mereka banyak melakukan pelanggaran,” tutur Saleh Mukadar.

Saleh menuturkan, PSSI terpaksa menarik semua wasit dan perangkat pertandingan dari PON XVIII karena adanya tindakan intimidasi dan pengusiran. Langkah darurat ini dilakukan untuk pencegahan terjadinya tindakan anarkis.

Sebelumnya, PSSI dan PB PON sudah mengadakan pertemuan untuk membahas masalah teknis pertandingan pada 4 September lalu. Hasilnya, semua pihak sepakat untuk menjalankan pertandingan sesuai jadwal. Namun, rencana itu akhirnya batal setelah munculnya KONI dan Baori. Pada pertemuan KONI dan Baori dengan PB PON, PSSI tidak diikutsertakan.

Direktur media PSSI, Tommy Rusihan Arief menuturkan kisruh berlanjut hingga ke pertandingan. Laga kedua grup C antara Jawa Tengah lawan Kalimantan Selatan, 6 September tiba-tiba dianulir. Massa dan Panpel setempat, tiba-tiba memprovokasi PSSI untuk pergi.

“Jadi PSSI menarik semua wasit dan perangkat pertandingan,” tutur Arief.

Tommy Rusihan Arief menilai, tindakan provokasi itu adalah bentuk tindakan anarkis Panpel. Seharusnya sebagai Panpel, mereka sudah tahu ada aturan yang harus dihormati semua pihak. Meski diusir, menurutnya PSSI tetap secara penuh mendukung kesuksesan PON ke-XVIII.

(YG)

Comment di sini