Ahok Dianggap Lecehkan Warteg di Jakarta

by
September 18th, 2012 at 8:42 am

Jakarta (CiriCara.com) – Dalam debat antara kedua pasangan Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) DKI Jakarta yang berlangsung pada Minggu 16 September 2012 malam kemarin, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Cawagub pasangan Jokowi dinilai telah merendahkan keberadaan Warteg di Ibukota.

Dalam debat tersebut Ahok menyindir soal manajemen busway dengan omset triliunan yang hanya dikelola menggunakan manajemen Warteg yang buruk. Penyataan ini dianggap sangat menghina orang Tegal terutama pengusaha Warteg. Sejumlah kalangan menilai, penyataan ini nantinya bisa menjadi blunder bagi pasangan dengan nomor urut tiga tersebut.

Dikutip dari Inilah.com, Nurul Hakim, Ketua Komunitas Pedagang Warteg Jakarta menyayangkan penyataan Ahok ini.

“Pernyataan Ahok sebagai pemimpin telah menghina pengusaha warteg yang menjadi ikonnya wong cilik,” kata ketua Komunitas Pedagang Warteg Jakarta, Nurul Hakim pada hari Senin, 17 September 2012.

Menurut Nurul lagi, kebanyakan orang Tegal merantau ke Jakarta bukan hanya sekedar mencari makan dan jabatan tetapi memberikan makan ke warga lainnya dengan membuka usaha warteg. Dengan mengatakan bahwa manajemen warteg buruk, maka Ahok telah merendahkan mata pencaharian dan kemampuan kebanyakan orang Tegal.

“Kami tidak pernah merendahkannya di media, bisnis kami halal dan memberikan lapangan pekerjaan untuk banyak orang, asalkan pekerja di Jakarta senang karena harga murah,” jelas Nurul lagi.

Karena penyataan tersebut, Nurul meminta pasangan Jokowi-Ahok untuk meminta maaf kepada masyarakat Tegal dan para pemilik warteg. Karena penyataan Ahok tersebut, Nurul mengatakan lagi bukan sebuah ketidakmungkinan jika para pengusaha warteg akan mengalihkan dukungan ke pasangan Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli.

Namun menanggapi tuduhan ini, Ahok menilai penyataannya telah dipolitisasi. Diberitakan oleh JPNN.com, Ahok menjelaskan bahwa penyataannya yang dianggap telah menghina warteg tersebut dimaksudkan untuk mengkritik manajemen transportasi Jakarta yang belum profesional.

“Maksud dari pernyataan saya waktu itu  adalah agar manajemen transportasi yang memerlukan teknologi dan biaya tinggi itu jangan dikelola dengan manajemen yang sederhana, tetapi sebaiknya dikelola dengan manajemen secara profesional sesuai dengan tata kelola manajemen transportasi yang baik dan benar,” jelasnya.

(RN)

[colorvote id="4" style="wpcvp-poll"]

Comment di sini