Pasangan Beda Agama Boleh Menikah?

CiriCara.com - Indonesia terdiri dari beragam manusia yang tentunya memiliki beragam latar belakang. Namun di dalam kesehariannya, hampir semua warga negara Indonesia mampu membaur dalam  menjalankan aktivitasnya.

Ya, hampir semua, karena sayangnya masih ada juga orang-orang yang ingin hidup ekslusif dalam artian hanya mau berinteraksi dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengan mereka.

Namun, dengan memilih tinggal di Indonesia maka “risiko” yang harus dihadapi adalah bersosialisasi dengan sesama yang memiliki perbedaan tertentu dengan kita karena bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk.

Keberagaman adalah hal yang acap dijumpai di Tanah Air, apalagi di kota-kota besar semacam Jakarta. Di lingkungan RT, sekolah, hingga kantor, pasti ada perbedaan tertentu di antara masing-masing individu.

Perbedaan sifat? Pasti. Perbedaan wajah? Apalagi. Kalau perbedaan ras atau agama? Belum tentu. Ada sejumlah institusi yang mewajibkan anggotanya memiliki pandangan yang sama, terutama pandangan tentang SARA (Suku, Agama,Ras, dan Antargolongan).

Masalah SARA memang merupakan topik yang rumit untuk dibicarakan. Bukan hanya di Indonesia, di negara-negara lain pun perbedaan SARA kerap berujung pada kesalahpahaman hingga terjadi kericuhan yang sebenarnya bisa dihindari.

Masalah SARA di Indonesia baru-baru ini sering muncul di media massa terkait Pemilu Kepala Daerah DKI Jakarta 2012. Pemilukada putaran 1 telah menjaring dua pasangan terfavorit yakni Foke-Nara dan Jokowi-Ahok yang berhak untuk maju di Pemilu Putaran 2 yang akan dilangsungkan pada 20 September 2012. Masalah SARA diduga diangkat untuk memenangkan salah satu pasangan cagub-cawagub DKI. Satu isu yang dikumandangkan adalah masalah agama.

Salah satu pasangan mengatakan pemilih harus memilih cagub dan cawagub yang memiliki keyakinan sama dalam hal beragama. Mereka beralasan kitab suci telah mengajarkan hal demikian bagi para umat. Jika mereka tidak memilih calon pemimpin yang seiman, maka mereka akan menanggung dosa yang berat.

Tentu ujaran ini mendapat beragam tanggapan dari warga DKI Jakarta. Ada yang setuju, namun tak sedikit yang menyanggahnya. Ada yang mengatakan, “Bagaimana dengan umat yang hidup di negara yang sebagian besar penduduknya memeluk agama lain?” Ambil contoh, Amerika Serikat. Hingga kini, negeri adidaya ini belum pernah memunculkan calon pemimpin negara beragama non-Kristiani. Apakah dengan demikian umat beragama lain dilarang mengikuti Pemilu Presiden agar tidak berdosa? Jangan terlalu jauh, bagaimana jika diambil polling untuk menentukan ketua kelas? Atau ketua komunitas yang tingkatannya lebih kecil ketimbang Pemilu Presiden?

Masyarakat yang heterogen cenderung memiliki masalah yang lebih kompleks daripada komunitas homogen. Perbedaan agama adalah kenyataan yang harus dihadapi dengan kepala dingin dan mata terbuka. Termasuk perbedaan agama dalam menjalin asmara.

Sering kita jumpai pasangan beda agama yang akhirnya memilih berpisah karena terbentur masalah keyakinan, meskipun mereka sudah saling mencintai. Ironis memang, tapi itulah fakta. Hukum di Indonesia sengaja tidak membahas pernikahan beda agama karena diserahkan kembali ke ajaran agama masing-masing. Dan ternyata agama memang melarang pernikahan beda iman, terutama Kristiani dan Islam.

Tetapi dalam praktiknya banyak pasangan beda agama yang bisa berakhir di pelaminan. Setidaknya ada 4 “solusi” bagi pasangan beda agama yang ingin menikah menurut Guru Besar Hukum Perdata Universitas Indonesia Prof. Wahyono Darmabrata, yakni:

1.      Meminta penetapan pengadilan

2.      Pernikahan  dilakukan menurut masing-masing agama

3.      Penundukan sementara pada salah satu hukum agama

4.      Menikah di luar negeri

Sebenarnya waktu Prof. HM Rasjid menjabat sebagai Menteri Agama RI 1, pernah dibahas RUU Perkawinan yang salah satu pasalnya memperbolehkan pasangan berbeda agama untuk menikah.

“Perbedaan karena kebangsaan, suku, bangsa, negara asal, tempat asal, agama, kepercayaan dan keturunan, tidak merupakan penghalang perkawinan.” Demikian bunyi RUU Perkawinan pasal 10 ayat (2) tahun 1973. Namun RUU tersebut langsung ditentang umat Islam kala itu karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Sabria Kono (Islam) dan Rio Febrian (Kristen) pilih menikah di Bangkok

Kini, terserah pada masing-masing orang yang menjalani hidupnya. Cinta memang buta, tak mengenal perbedaan. Banyak orang malah berpendapat dengan perbedaan itulah dua orang yang saling mencintai berusaha untuk saling melengkapi, saling mengisi.

Tetapi, tak bisa disangkal, memang sulit jika suatu masalah sudah berbenturan dengan masalah keyakinan. Bagaimana menurut Anda?


comments powered by Disqus