Inilah Pengakuan Algojo di Masa PKI 1965

by
October 1st, 2012 at 10:19 am

Jakarta (CiriCara.com) – Film dokumenter berjudul The Act of Killing yang bercerita tentang sejarah kelam Indonesia di tahun 1965 memunculkan fakta mengerikan. Anwar Congo, algojo pembantaian masa PKI pada 1965 memberi pengakuan di film tersebut.

Anwar yang merupakan algojo PKI kembali memperagakan ulang kekerasan-kekerasan yang pernah dilakukannya. Dalam film yang disutradarai oleh Joshua Oppenheimer itu, kembali memperlihatkan masa-masa kelam Indonesia di masa PKI 1965.

Film The Act of Killing itu menampilkan kesadaran Anwar tentang bagaimana menjadi seorang pembunuh dan bagaimana seandainya menjadi korban yang dibunuh. Saat film ini diputar di Festival Film Toronto, pers Barat menyebutnya sangat mengerikan dan mengguncang batin.

Pengakuan-pengakuan Anwar, membuat film ini terlihat mengerikan. Bagaimana tidak, algojo berdarah dingin ini mengaku membunuh dengan perasaan gembira. “Saya menghabisi orang PKI dengan gembira,” katanya.

Dalam sebuah adegan, terlihat Anwar dan temanya yang juga algojo 1965 naik sebuah mobil terbuka. Mereka menyusuri jalan-jalan di Medan dan sesekali bernostalgia ke tempat pembunuhan yang mereka lakukan. Semua itu dilakukan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

Bahkan, mereka memperlihatkan betapa kerasnya mereka saat melakukan pembantaian. “Setiap ketemu China, langsung saya tikam…”. Pengakuan seperti inilah yang membuat banyak orang terperangah dengan film The Act of Killing ini.

Sejarah:

Peristiwa 1965 adalah peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh komunis di Indonesia pada masa terjadinya Gerakan 30 September di Indonesia. Sasaran utama dari pembantaian ini adalah masa yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).

Peristiwa itu diyakini terjadi karena adanya perang politik yang sangat komplek. Di mana menjelang tragedi September, konflik PKI dengan partai politik lain memanas. PKI, yang merasa di atas angin menekan penduduk yang tidak sealiran. Akibatnya, saat kondisi mulai berbalik pembalasan pun tak terkendali.

Pembunuhan terhadap masa PKI diperbolehkan oleh para sesepuh dan tokoh agama. Bahkan, militer pun disebut-sebut ikut andil dalam pembantaian ini. Konon, para algojo diberi senjata dan dilindungi oleh militer. Itulah sebabnya para algojo ini kebal hukum.

Militer yang menguasai surat kabar terus memprovokasi masyarakat bahwa komunis adalah musuh negara yang identik dengan ateisme. Bahkan, militer pun menyebarkan daftar anggota PKI yang harus dihabisi. Akibatnya, pembantaian masa PKI pun tidak terelakan.

Di beberapa tempat, ada narapidana yang sengaja dilepaskan untuk memburu orang komunis yang dianggap sebagai musuh negara. Itulah yang membuat para algojo menganggap wajar tindakan mereka.

Meskipun demikian, sang sutrada Oppenheimer menuturkan bahwa Anwar sempat terlihat menyesal saat melakukan peragaan ulang. Rasa heroik dan bersalah terlihat bercampur dalam diri mantan algojo ini.

(YG)