Lagu SBY Iringi Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya

by
October 1st, 2012 at 2:35 pm

Jakarta (CiriCara.com) – Seperti biasa, setiap tanggal 1 Oktober para pejabat pemerintah Indonesia mengadakan upacara peringatan hari Kesaktian Pancasila. Terlihat Presiden SBY dan rombongan datang ke lokasi upacara di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Pada upacara peringatan yang berlangsung di areal Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timut ini terdengar lagu ciptaan SBY. Sebuah lagu yang berjudul “Aku Yakin Sampai di Sana” jadi pengiring kedatangan SBY dan rombongan.

Presiden SBY bertindak sebagai pemimpin upacara, dan yang menjadi komandan upacara adalah Kolonel Marinir Y. Sulistyanto. Upacara resmi dimulai pada pukul 08.00 WIB, Senin (1/10/2012) tadi pagi.

Dibuka dengan lagu hymne Mengheningkan Cipta, lalu pembacaan naskah UUD’ 45 oleh Ketua DPD Irman Gusman. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan naskah ikrar mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Ikrar dibacakan dan ditandatangani oleh Ketua DPR-RI, Marzukie Alie.

Setelah itu dilanjutkan dengan doa yang dibacakan oleh Menag Suryadharma Ali. Tidak ada sambutan inspektur seperti pada upacara kemerdekaan. Upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini ditutup dengan diiringi lagu Indonesia Raya.

Sejumlah pejabat tinggi negara terlihat hadir di lokasi upacara ini. Di antaranya adalah Ketua MK Mahfud MD, Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua BPK, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mentan Sarwono, Menkeu Agus Martowardoyo dan Mendagri Gamawan Fauzi.

Hari Kesaktian Pancasila adalah peringatan pemberontakan PKI pada tanggal 30 September 1965. Di mana satu hari setelah itu, operasi pembantaian simpatisan PKI dimulai TNI dengan melakukan penyergapan dan evakuasi mayat tujuh orang perwira TNI AD yang menjadi korban PKI dan jasadnya ditanam di Lubang Buaya.

Namun, sejarah pembantaian PKI yang dilakukan TNI masih menjadi kontroversi hingga saat ini. Banyak yang berpendapat bahwa TNI telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berat. Tapi, banyak pihak meragukan otentifikasi dari sejarah yang beredar.

(YG)

Comment di sini