Amra Babic, Wanita Berjilbab Jadi Wali Kota di Bosnia

by
October 10th, 2012 at 5:01 pm

Sarajevo (CiriCara.com) – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Amra Babic menjadi wali kota pertama di Bosnia dan Eropa yang mengenakan jilbab. Wanita muslim ini terpilih dalam pemilihan wali kota yang digelar Minggu (7/10/2012). Apa perasaan Amra Babic setelah terpilih?

Menurut Amra Babic, pemilihan wali kota Bosnia yang memenangkan dirinya adalah merupakan bukti dari demokrasi yang sesungguhnya. Ia menilai warga Bosnia telah bersikap dewasa dengan tidak membedakan gender dan juga agama.

“Warga kota menunjukkan kedewasaan mereka karena memilih saya yang tak hanya seorang perempuan, tetapi perempuan yang mengenakan jilbab,” ujar Amra Babic.

Amra Babic menilai pemilihan wali kota Bosnia bisa menjadi tolak ukur demokrasi di Eropa. Apalagi di benua biru ini, dua budaya yakni Barat dan Timur bertemu dalam satu negeri. Dengan demikian kedamaian akan tercipta.

“Saya yakin jilbab saya tidak akan menjadi penghalang. Eropa akan memahami bahwa jilbab terkait identitas seseorang yang juga memiliki toleransi terhadap hak orang lain,” papar Amra Babic.

Babic lebih lanjut menjelaskan bahwa agama Islam tidak pernah melarang perempuan untuk berprestasi seperti pria. Bahkan, Islam memberikan tempat khusus untuk para perempuan, bukan untuk mengekang mereka. “Seperti itulah perempuan di mata Islam,” katanya.

Babic menuturkan, ia tidak akan mencampurkan kepentingan politik dengan agama. Ia mengaku akan berperan sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai seorang wali kota. “Saya tak akan mencapurkan politik dan agama. Jika saya memiliki kekuatan untuk melindungi hak saya maka saya akan mencari kekuatan untuk melindungi hak orang lain,” janjinya.

Di Bosnia sendiri, ada sekitar 40 persen dari 3,8 juta penduduk yang beragama Islam. Sementara sebanyak 31 persen memeluk Kristen Ortodox yang dianut sebagian besar etnis Serbia. Sedangkan 10 persen lainnya memeluk Katolik Roma, mereka adalah etnis Kroasia.

Babic menyadari bahaya politik bercampur sentimen agama. Pasalnya, ia kehilangan suaminya dalam perang Bosnia 1992-1995 yang merupakan buntut dari sentimen antar umat beragama. Ia tidak mau peristiwa kelam itu terjadi lagi di masa kepemimpinannya.

(YG)

Comment di sini