Foto: Pesawat Tanpa Awak Buatan Indonesia

by
October 11th, 2012 at 2:20 pm

CiriCara.com – Pesawat tanpa awak buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Puna Wulung diuji coba. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) datang untuk menyaksikan uji coba pesawat buatan Indonesia ini.

Puna Wulung diuji coba di base operasional, Pangkalan Halim Perdanakusumah, Jakarta, Kamis (11/10/2012). Rencananya, pesawat tanpa awak ini akan diproduksi masal dan digunakan untuk membantu operasi militer Indonesia.

Selain Puna Wulung, ada pesawat lain yang berhasil diciptakan oleh Indonesia. Total, ada lima pesawat tanpa awak buatan Indonesia termasuk, Puna Wulung. “Pesawat ini untuk keperluan militer,” tutur peneliti BPPT, Adrian Zulkifli.

Berikut foto 5 pesawat tanpa awak buatan Indonesia:

1. Puna Wulung

Spesifikasi pesawat, dikutip dari detikcom:
- wingspan 6.360 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 120 kg
- cruise speed 60 knot (111.12km/jam)
- endurance 4 jam
- range 120 KM
- length 4.320 mm
- height 1.320 mm

2. Puna Pelatuk

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 6.916 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 120 kg
- cruise speed 52-69 knot (96,3 – 127,8 km/jam)
- endurance 4 jam
- range 73 km
- altitude 8.000 feet
- payload=gymbal camera video

3. Puna Gagak

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 6.916 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 120 kg
- cruise spreed 52-69 knot (96,3 – 127,8 km/jam)
- endurance 4 jam
- range 73 km
- altitude 8.000 feet
- payload=gymbal camera video

4. Puna Alap-alap

detikcom

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 3.510 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 18 kg
- cruise speed 55 knot (101,86 km/jam)
- endurance 5 jam
- range 140 km
- altitude 7.000 feet
- payload=gymbal camera video

5. Puna Sriti

detikcom

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 2.988 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 8,5 kg
- cruise speed 30 knot
- endurance 1 jam
- range 5 nautical mile
- altitude 3.000 feet
- catapult 4.500 mm
- catapult bungee chords

Berapa harga dari pesawat tanpa awak buatan Indonesia ini? “Satu pesawat harganya kira-kira 2 miliar. Dan riset ini menggunakan dana DIPA. Untuk engine, kita ambil dari Jerman. Kalau kamera bisa pakai dari Taiwan,” tutur Zulkifli.

Pesawat-pesawat ini cocok digunakan di daerah perbatasan untuk melakukan pengintaian. Dengan demikian, pemerintah Indonesia bisa tetap memberikan pengawasan di daerah perbatasan dan daerah terpencil.

(YG)

Comment di sini