Kata Pembela KPK Tentang 10 Kejanggalan Kasus Novel Baswedan

by
October 19th, 2012 at 2:14 pm

Tribunnews

Jakarta (CiriCara.com) – Meski Novel Baswedan ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penembakan yang dilakukannya pada tahun 2004 silam oleh pihak Polri, Tim Pembela Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih mengumpulkan sepuluh kejanggalan kasus Kompol Novel Baswedan.

Nurcholis Hidayat, perwakilan Tim Pembela Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan bahwa akan ada konsekuensi hukum bagi mereka yang merekayasa kasus tersebut.

“Ada konsekuensi hukum bagi mereka yang diduga merekayasa kasus ini,” kata Nurcholis di Jakarta, Kamis, 18 Oktober 2012 seperti dikutip Kompas.com.

Hasil investigasi tentang sepuluh kejanggalan kasus Novel Baswedan ini seharusnya bisa diverifikasi oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), dan instansi-instansi lainnya dengan tempo waktu yang cepat sehingga proses hukum terhadap Novel tidak terlalu berkepanjangan.

Berikut ini adalah daftar sepuluh keganjilan kasus Novel Baswedan versi Tim Pembela Penyidik KPK:

1. Selisih antara pembuatan Laporan Pemeriksaan (LP) dengan penangkapan hanya berjarak empat hari. LP untuk Novel Baswedan dibuat pada tanggal 1 Oktober 2012 dengan Nomor LP A/1265/XI/2012/SPKT, sementara penangkapan Novel dilakukan pada tanggal 5 Oktober 2012.

2. Surat keadilan dari Yulisman yang mewakili Iwan Siregar dan Dedi Nuryadi dibuat pada tanggal 21 September 2012 sementara hasil pemeriksaan forensik tertanggal 29 September 2012 yang dibuat di laptop merek Acer. Laporan ini dimodifikasi  pada tanggal 3 Oktober 2012 untuk menangkap Novel.

3. Kejanggalan ketiga adalah surat permohonan keadilan dikonsep oleh pejabat Polri berdasarkan fakta file draft surat permohonan keadilan dan ditandatangani oleh Kepala Bidang Keuangan, Kasetum, dan Wakapolda.

4. Sedangkan kejanggalan keempat adalah saat Novel menjalani sidang. Sidang yang dijalani Novel adalah sidang disiplin dan bukan sidang etik.

5. Kejanggalan kelima mengarah kepada olah TKP yang dinilai telah salah tempat. Olah TKP Penembakan dilakukan 100 meter dari gerbang Wisata Alam Pantai Panjang dan bukan pada tempat kejadian. Saat itu juga dua orang pelapor kasus Novel tidak hadir. Dedi Mulyadi dan Iwan Siregar saat itu hanya berada di dalam Kijang Innova Silver B 8437 GJ.

6. Kejanggalan keenam mengarah pada operasi pengangkatan peluru di hari penangkapan Novel pada tanggal 5 Oktober 2012. Dedi Irianto selaku Disrekrim Polda Bengkulu langsung merilis konferensi pers di Mabes Polri dan menuduh Novel sebagai pelaku penembakan.

7. Sementara kejanggalan ketujuh terdapat pada uji balistik peluru yang dilakukan setelah konferensi pers Dedi Irianto di Mabes Polri.

8. Kejanggalan kedelapan yaitu ketika polisi membujuk keluarga korban meninggal Mulyan alias Aan membuat laporan ke polisi. Polisi lalu mengalihkan fokus pada Dedi dan Irwan dengan luka tembak di kaki karena keluarga korban tidak mau melapor.

9. Selanjutnya, saksi-saksi yang tercantum dalam BAP diarahkan untuk memberikan keterangan melihat secara langsung Novel menembak para pencuri sarang walet.

10. Sedangkan kejanggalan terakhir terdapat pada upaya penggeledahan pada tanggal 5 Oktober 2012. Upaya tersebut tidak dilengkapi izin pengadilan dan nomor surat penangkapan. (RN)

Comment di sini