Menderita Asma? Jalani 4 Terapi Farmakologi Ini

by
November 13th, 2012 at 11:12 am

CiriCara.com - Asma merupakan penyakit kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan terjadinya inflamasi dan berbagai peningkatan reaktivitas di stimulus.

Dengan terapi pengobatan yang tepat dan sesuai biasanya penderita dapat sembuh dengan segera. Meskipun begitu, hal yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian antara obat dan penderita yang sangat menentukan keberhasilan suatu terapi.

Untuk itu perlu dipahami bagaimana karakteristik masing-masing obat asma tersebut. Berikut beberapa terapi farmakologi yang bisa digunakan pada penderita asma:

Simpatomimetik

Obat golongan simpatomimetik disebut juga obat adrenergik karena menimbulkan efek yang serupa dengan perangsangan saraf adrenergik, atau suatu gejala yang memiliki kemiripan dengan efek neurotransmitor, norepinefrin, dan epinefrin. Berbagai obat simpatomimetik yang digunakan pada terapi asma adalah albuterol, bitolterol, efedrin, epinefrin, isoetharin, soproterenol, metaproterenol, salmeterol, pirbuterol, dan terbutalin. Masing-masing obat memiliki selektifitas dan efek samping yang berbeda-beda terhadap penderita.

Secara umum daya kerja kelompok obat simpatomimetik adalah memberi stimulasi reseptor α adrenergik yang mengakibatkan terjadinya vasokonstriksi, dekongestan nasal, dan peningkatan tekanan darah. Kedua adalah memberi stimulasi pada reseptor β1 adrenergik sehingga terjadi peningkatan kontraktilitas dan irama jantung. Ketiga adalah memberi stimulasi pada reseptor β2 sehingga menyebabkan bronkodilatasi, peningkatan klirens mukosiliari, stabilisasi sel mast dan menstimulasi otot skelet.

Obat simpatomimetik tidak dianjurkan untuk penderita yang alergi terhadap obat ini, seperti penderita diabetes, aritmia jantung (takikardia, angina, aritmia ventrikular), dan pasien anestesia lokal pada daerah-daerah tertentu (jari tangan, jari kaki), karena dapat berisiko terjadi penumpukan cairan di jaringan.

Xantin (Metilxantin)

Obat-obat jenis xantin merupakan obat stimulan untuk pusat pernafasan, bekerja dengan cara merelaksasi secara langsung otot-otot polos bronki dan pembuluh darah pulmonal, meningkatkan sekresi asam lambung, menurunkan tekanan sfinkter esofageal bawah dan menghambat kontraksi uterus. Beberapa gejala dari efek samping yang ditimbulkan antara lain mual, muntah, diare, sakit kepala, insomnia, dan iritabilitas. Pada dosis lebih tinggi (35 mcg/mL) dapat mengakibatkan hiperglisemia, hipotensi, aritmia jantung, dan takikardia.

Antikolinergik

Obat jenis antikolinergenik bekerja dengan cara menghambat refrek vagal dengan cara mengantagonis kerja asetilkolin. Secara umum kerja jenis obat ini adalah bersifat lokal pada tempat-tempat tertentu dan bukan bersifat sistemik. Obat antikolinergenik dibedakan dalam 2 jenis yaitu ipratropium bromida dan tiotropium.

Ipratropium bromida (semprot hidung) mempunyai sifat antisekresi dan menghambat sekresi kelenjar serosa dan seromukus mukosa hidung. Sedangkan tiotropium bekerja dengan cara menghambat reseptor M3 pada otot polos sehingga terjadi bronkodilasi. Bronkodilasi yang timbul setelah inhalasi tiotropium bersifat sangat spesifik pada lokasi tertentu.

Kortikosteroid

Obat jenis kortikosteroid merupakan obat steroid adrenokortikal yang bekerja dengan cara menurunkan aktivitas sel yang terinflamasi sehingga dapat merelaksasi otot polos secara langsung. Beberapa gejala yang timbul biasanya adalah iritasi tenggorokan, suara serak, batuk, mulut kering, ruam, pernafasan berbunyi, edema wajah dan sindrom flu.

Dengan mengetahui karakteristik dari masing-masing obat asma tersebut diharapkan penderita lebih mengetahui obat mana yang lebih cocok dan sesuai, tentunya sangat disarankan untuk tetap berkonsultasi dengan dokter terkait. (RF)

Comment di sini