Mengenal Jenis Vaksin Flu (Influenza)

by
November 13th, 2012 at 4:07 pm

CiriCara.com – Seperti halnya obat, pencegahan flu juga dapat dilakukan dengan menggunakan vaksin. Proses vaksinisasi ini disebut juga dengan imunisasi influenza. Tentu saja pemberian vaksin ini bertujuan hanya untuk mencegah serangan flu dan tidak untuk mencegah infeksi virus lainnya, terutama yang banyak terjadi pada musim dingin (hujan).

Pada sebagian orang, infeksi flu dapat menjadi penyakit yang cukup serius. Pada dasarnya vaksin dapat dilakukan terhadap semua orang. Akan tetapi, pemberian vaksin lebih diutamakan kepada kelompok orang yang rentan dan beresiko mengidap influenza parah. Diantaranya, balita, manula, wanita hamil, dan penderita penyakit tertentu (penyakit jantung, ginjal, paru-paru, gangguan sistem kekebalan tubuh). Pada kelompok ini gejala flu menyebabkan demam tinggi dan radang paru yang parah.

Hal yang selalu harus diperhatikan, sebelum pemberian vaksin kita harus benar-benar sehat terlebih dahulu. Meski hanya menderita sakit ringan, vaksin tetap tidak boleh diberikan sampai benar-benar sehat. Ini dilakukan agar tidak terjadi kemungkinan komplikasi akibat pemberian vaksin. Pemberian vaksin dilakukan jika telah terjadi wabah flu (pandemik) di suatu daerah. Biasanya peningkatan serangan flu terjadi pada bulan November hingga Mei, yaitu saat musim hujan melanda di negara-negara daerah tropis.

Vaksin Jenis Semprot ke Hidung

Pada saat ini terdapat dua bentuk vaksin influenza. Pertama adalah vaksin yang berasal dari virus yang telah dinonaktifkan (Flu Shot Vaccine). Vaksin ini dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara diinjeksikan melalui jarum suntik. Pengaruh saat penyuntikan biasanya akan mengalami nyeri otot dan demam ringan. Selanjutnya, tubuh mulai memproduksi antibodi yang dibutuhkan untuk mencegah infeksi virus.

Vaksin kedua adalah vaksin yang berasal dari virus influenza yang telah dilemahkan (The Nasal-Spray Flu Vaccine), tapi tidak berbahaya bagi tubuh. Vaksin ini diberikan dengan cara disemprotkan ke dalam hidung. Setelah penyemprotan, vaksin akan merangsang kekebalan sistem imun di sekitar rongga hidung dan saluran pernafasan bagian atas untuk mencegah infeksi virus.

Hal yang mendapat diperhatikan sebelum pemberian vaksin adalah masalah efek samping dari vaksin, yaitu berupa alergi. Memang, resiko vaksin dalam menyebabkan kematian atau masalah serius lainnya sangat jarang terjadi. Resiko terparah adalah timbulnya reaksi-reaksi alergi yang tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, dibutuhkan identifikasi terhadap riwayat alergi yang dialami sebelum proses vaksinasi dilakukan. Sedangkan masalah-masalah ringan yang mungkin terjadi setelah vaksinasi adalah berasa nyeri, kulit kemerah-merahan, bengkak pada bagian tubuh yang disuntikan, suara menjadi serak, gatal-gatal, batuk, dan demam. Biasanya gejala-gejala tersebut akan terjadi selama 1 – 2 hari.

Setalah pemberian vaksin, kita juga harus memantau perkembanganya selama beberapa hari. Bila muncul keadaan-keadaan yang tidak lazim dan terus berlangsung, seperti demam, perubahan perilaku, dan tanda-tanda alergi (kesulitan bernafas, gatal, pusing, pucat, serak atau tersengal-sengal), sebaiknya segera menghubungi dokteri untuk dilakukan pemeriksaan. (RF)