3 Jenis Diare yang Paling Sering Terjadi

by
November 21st, 2012 at 3:00 pm

CiriCara.com – Diare merupakan salah satu jenis penyakit lingkungan yang banyak diderita oleh masyarakat.

Dua faktor utama yang sangat memengaruhi timbulnya wabah penyakit diare sebenarnya adalah masalah ketersediaan sarana air bersih dan pembuangan tinja. Apabila kedua faktor tersebut tidak mendapat penanganan yang baik, ditambah lagi dengan perilaku manusia yang tidak sehat maka peluang terjadinya diare akan sangat tinggi.

Penyakit diare dapat terjadi disebabkan oleh adanya infeksi mikroorganisme (bakteri, virus, dan parasit) berbahaya di dalam saluran pencernaan.

Namun, penyakit diare juga dapat terjadi dikarenakan oleh beberapa hal lainnya, seperti gangguan pencernaan (mal absorbsi), alergi, keracunan, gangguan sistem imun, dan lain-lain. Penderita penyakit diare umumnya ditandai dengan bertambahnya frekuensi buang air besar, yang disertai dengan perubahan bentuk konsistensi tinja yang dikeluarkan.

Berikut jenis-jenis penyakit diare yang paling sering terjadi dalam masyarakat, meliputi:

Diare akut

Diare akut adalah diare yang berlangsung antara 7 sampai 14 hari lamanya. Diare ini ditandai dari frekuensi buang air besar yang meningkat dan mendadak dengan bentuk tinja yang berair tetapi tidak berdarah. Penyebab terjadinya diare akut adalah virus (Noravirus, Norwaik Agint), bakteri (Escherichia coli, Salmonella, Shigella, Vibrio cholerae, dan Campylobacter), dan Parasit (Candida).

Gejala: turgor kulit menjadi berkurang, nadi lemah, mata cekung, suara parau, kulit dingin, jari-jari kebiruan, bibir kuning, muntah-muntah, lemah otot, kejang, serta pernapasan cepat dan dalam.

Diare disentri

Diare disentri disebut juga dengan diare berdarah karena terjadinya diare tidak hanya berupa cairan saja melainkan juga disertai darah. Diare ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan penurunan berat badan dengan cepat (anoreksia) dan kerusakan parah pada dinding (mukosa) usus.

Beberapa mikroba penyebab disentri adalah Salmonella, Campylobacter, Vibrio parahaemolyticus, Shigella, Enteroinvasive E. Coli, dan Entamoeba histolytica. Umumnya disentri berlangsung selama 7 hari atau bahkan bisa lebih lama, sehingga berpotensi menyebabkan dehidrasi parah hingga kematian.

Gejala: nyeri pada abdomen, mual, dengan atau tanpa muntah, diare berdarah, penurunan produksi urin, kulit kering, haus yang teramat sangat, demam dan menggigil, kejang otot, lemas, dan penurunan berat badan.

Diare persisten

Diare persisten merupakan penyebab penting kematian anak di negara-negara berkembang. Diare ini adalah diare lanjutan akibat pengaruh dari diare yang terjadi sebelumnya, baik itu diare akut maupun disentri. Oleh karena kerusakan yang parah pada mukosa usus dan lambatnya kesembuhan dari kerusakan tersebut, menyebabkan gangguan dalam penyerapan gizi atau nutrisi yang diperlukan tubuh.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya diare persisten. Diare ini umumnya berlangsung lebih dari 14 hari secara terus-menerus, sehingga dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan gangguan metabolisme tubuh kronis. Beberapa mikroba penyebab diare persisten adalah Rotavirus, Aeromonas, Campylobacter, Shigella, dan Cryptosporidium.

Gejala: rasa mulas yang berkepanjangan, dehidrasi, mual dan muntah, nyeri punggung.

(RF)

Comment di sini