6 Tahap Pacaran Para ABG di Jakarta

by
November 21st, 2012 at 11:17 am

CiriCara.com – Serunya kehidupan masa remaja biasanya dialami saat menjelang kelulusan SMP atau awal SMA.

Satu alasan utama adalah karena pada masa ini, para ABG generasi bangsa merasakan pubertas atau masa akil balig. Salah satu penanda datangnya masa ini adalah munculnya perasaan yang disebut cinta kepada lawan (atau mungkin juga sesama) jenis.

Deg-degan. Gelisah. Berbunga-bunga. Gugup. Semua perasaan bercampur aduk ketika seorang anak kelas 3 SMP atau kelas 1 SMA merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Setelah mengutarakan perasaan, biasanya seorang remaja yang jatuh cinta akan merasa lega atau khawatir, bila yang ditembak tidak langsung menjawab pinangannya.

Ketika sudah dijawab, “Iya, aku mau jadian ama kamu”, langsung duaarrr… Kembang api meletus. Hati melompat girang. Mata terus terbuka seakan tak percaya.

Dan…masa pacaran pun dimulai.

Di era internet seperti sekarang ini, masa pacaran yang tentunya merupakan jalan untuk menuju ke pelaminan tidak seperti masa pacaran di era Repelita-nya Soeharto. Kecanggihan iPhone dan Samsung Galaxy membuat banyak petugas pos pensiun dini. Skype membuat jarak beribu kilometer seakan hanya 30 cm.

Beda era, berbeda pula tahap dalam masa pacaran yang ditempuh dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, apalagi bila mereka hidup di kota metropolitan seperti Jakarta.

Kira-kira tahap apa saja yang dialami oleh para ABG Ibukota sewaktu memadu kasih bersama pacar?

1. Tahap malu-malu

Tahap ini biasanya dialami selama sekitar 1-2 minggu setelah hari jadian. Masing-masing masih merasa malu untuk bersikap apa adanya.

Mereka berusaha mencari tips-tips di majalah dan internet tentang bagaimana menjadi cowok/cewek yang baik bagi pasangannya. Meski sebenarnya mereka membohongi diri mereka sendiri.

Tempat pacaran: Rumah/kantin sekolah

2. Tahap janji setia

Setelah tak lagi malu—karena sudah membaca tips di majalah dan internet  —mereka (terutama cowok) mulai mengobral janji untuk setia sehidup mati.

Pada tahap ini masing-masing akan saling bersikap manis ketika sedang berada di depan pasangannya. Tapi tak jarang mereka menggerutu di belakang karena menganggap pasangannya kurang ini dan itu.

Tempat pacaran: Rumah/kantin sekolah dan mal

Radar Bogor

3. Tahap kontak fisik I

Setelah saling percaya karena sudah saling mengucapkan janji setia, mereka mulai berani saling kontak fisik, namun hanya sebatas bergandengan atau berpegangan tangan.

Biasanya pihak cowok yang akan memulai duluan. Pihak cewek sebenarnya ingin dipegang tangannya, tapi malu untuk mengungkapkan.

Tempat pacaran: Mal dan bioskop

4. Tahap kontak fisik II

Pada tahap ini, sekitar 1-2 bulan setelah jadian, mereka naik level ke tahap kontak fisik yang lebih aduhai, seperti berpelukan.

Lagi-lagi pihak cowok yang seringnya memulai aksi duluan, kecuali saat si cowok tengah memboncengkan si cewek di motor bebek andalannya

Tempat pacaran: Seven Eleven

5. Tahap janji manis

Janji setia sudah diucapkan, kini giliran janji untuk masa depan. Tebak siapa yang mengucapkan janji duluan? Ya, cowok.

Si cowok akan mulai mengobral janji untuk masa depan mereka, seperti beli rumah, beli mobil, merencanakan jumlah anak, dan sebagainya.

Tempat pacaran: Warung di sekitar Puncak

6. Tahap putus/sah

Setelah sekitar 3-4 bulan pacaran cowok mulai bereksperimen dengan mencoba meraih tahap kontak fisik III yang melibatkan hampir semua bagian tubuh manusia, tapi di lain pihak si cewek masih mau berkutat di tahap kontak fisik II.

Kunci tahap ini ada di tahap sebelumnya, tahap ke-5. Jika si cewek telanjur terbuai janji manis, si cowok bisa dengan mudah masuk ke tahap kontak fisik III.

Tahap ini bisa ditapak lewat kerja keras si cowok dalam melancarkan serangan rayuan gombal, bisa pula melalui aksi si cewek yang secara sadar menyerahkan kunci gembok ke tahap kontak fisik III karena yakin bahwa si cowok merupakan belahan jiwanya.

Tahap ini biasanya diakhiri dengan 2 pilihan kata “putus” atau “sah”. Kata “putus” keluar jika salah satu pihak menolak naik level. Sedangkan kata “sah” keluar jika kedua belah pihak setuju naik level namun kebobolan karena tidak punya bekal pengalaman yang cukup.

(hp)