4 Strategi Ngirit Anak Kos Menjelang Akhir Bulan

by
November 22nd, 2012 at 10:59 am

Mbahwo

CiriCara.com – Anak kos yang hidup jauh dari orangtua harus pandai-pandai mengatur keuangan agar tidak sekarat menjelang akhir bulan.

Namun sayangnya tidak semua anak kos memiliki strategi yang paten dan mumpuni dalam bidang manajemen keuangan.

Ciri khas yang sering ditemui anak muda yang berstatus anak kos adalah nafsu yang menggebu-gebu untuk melakukan sesuatu, termasuk jajan.

Tanpa disadari, uang jajan yang dikirim orangtua saban awal bulan habis atau menipis sebelum waktunya karena dibuat jajan yang tidak perlu setiap hari.

Biasanya anak-anak kos yang seperti ini punya cara ampuh menghadapi hari-hari terakhir saat uang di kantong semakin menipis. Seorang pegawai swasta yang pernah berkuliah di Yogyakarta berinisial DW membeberkan triknya buat kamu:

1. Makan mi instan

DW mengaku pernah makan mi instan 7 hari berturut-turut karena terpaksa. Dia mengalokasikan sebagian uang kiriman yang semakin tipis untuk membeli makan siang dan rokok. Menu sarapan dan makan malam: mi.

Untuk mengatasi kejenuhan, dia memvariasikan menu mi. Misalnya, hari ke-1 mi goreng dan mi rebus ayam. Hari ke-2 mi rebus soto dan mi goreng rendang. Hari ke-3 mi rebus kare dan mi goreng pedas. Dan seterusnya.

Hasilnya, dia berhasil mengirit uang makan sampai akhir bulan. Tapi, sebulan setelahnya dia harus dirawat inap selama 2 minggu karena ususnya lengket.

2. Makan ayam lauk nasi sayur

Di sela-sela rutinitasnya makan mi instan, DW sadar bahwa dia perlu makanan yang sesungguhnya. Maka, menu makan siang yang selalu dia pilih adalah warung makan yang memperbolehkan pembelinya mengambil makanan sendiri.

Oleh karena dia mengambil sendiri makanannya, maka cara yang dia lakukan agar ngirit tapi tetap mendapatkan energi dan vitamin dari makanan adalah dengan menempatkan ayam di atas piring, kemudian menutupinya dengan nasi dan sayur sehingga ketika dihitung dia hanya harus membayar untuk nasi dan sayur saja.

Tapi pernah suatu hari, penjaga satu warung hapal gerak-gerik DW yang rajin datang tiap akhir bulan. DW akhirnya tertangkap basah melakukan triknya. Akhirnya, dia dilarang masuk warung itu selamanya. Pemilik warung sampai memasang foto DW di pintu warung dengan tulisan AUTOBANNED di bawahnya.

3. Berutang

DW mengaku terinspirasi program tahunan pemerintah soal trik ke-3 ini, yakni gali lubang tutup lubang. Ketika dana sudah benar-benar habis, tak ada pilihan lain baginya selain ngutang.

Ada 3 pihak yang dia utangi. Pertama, teman kuliah yang tidak ngekos. Kedua, warung dekat kos yang sudah akrab. Ketiga, pacar.

Untuk pihak pertama dan kedua, proses utang-piutang lebih lancar dilakukan. Namun khusus untuk pihak ketiga, dia agak kesulitan karena selama kuliah masa pacarannya hanya sebentar. DW pacaran dengan pacar pertamanya hanya selama 3 bulan. Dia diputus karena selalu ngutang setiap akhir bulan. Hubungan dengan pacar kedua hanya berlangsung 2 bulan. Alasan diputus sama. Setelah itu tak ada perempuan yang mau dengannya lagi sampai lulus.

4. Minta dikirim lauk kering

DW juga pernah menghubungi orangtuanya untuk mengirimkan beragam lauk kering yang tahan lama seperti tempe kering, abon, ragi, dan lain-lain. Ia tinggal memasak nasi sendiri di kos menggunakan rice cooker milik teman kos. Berbeda saat dia mengonsumsi mi instan tiap hari, ia gampang bosan jika memakan nasi lauk makanan kering ini. Ketika sudah bosan, dia kembali melakukan trik lain dari nomor 1-3.

Dia bercerita orangtuanya pernah mengiriminya uang tambahan sebagai pengganti makanan kering karena mereka tak sempat membeli makanan-makanan itu. DW pun girang bukan main. Namun dia tertunduk lesu saat awal bulan berikutnya ketika melihat saldo rekening. Uang bulanannya dipotong. Ketika ditanya, orangtuanya menjawab, “Kan kamu sudah kas bos bulan lalu.”

DW menyarankan bagi mahasiswa yang boros untuk perlahan-lahan mengubah gaya hidupnya agar tidak terbawa di kemudian hari. Dia sendiri bersyukur bisa mengubah gaya hidupnya sekarang. Namun dia mengaku tidak menyesal pernah melakukan trik-trik itu semasa kuliah. “Buat pengalaman, buat cerita anak-cucu,” pungkasnya.

(hp)

Comment di sini