DPR Dibuat Malu Anggotanya Sendiri Karena Salah Alamat

by
November 28th, 2012 at 11:08 am

Jakarta (CiriCara.com) – Kunjungan kerja salah alamat rupanya menjadi bumerang bagi DPR RI karena secara langsung lembaga legislatif  negara itu telah dipermalukan oleh para anggotanya.

Kunjungan kerja DPR yang dilakukan ke Berlin, Jerman itu awalnya ditujukan untuk membahas UU Keinsinyuran. Padalah lembaga yang dikunjungi Deutsches Institut für Nörmung (DIN) itu hanya mengurusi standarisasi produk dan proses teknik.

Direktur Eksekutif Segitiga Institute, Muhammad Sukron lewat Inilah.com menyampaikan pendapatnya mengenai kunjungan kerja DPR RI yang salah alamat itu.

“Untuk kesekian kali anggota DPR mempermalukan lembaga yang terhormat tersebut. berdalih kunjungan kerja, anggota DPR ini pelesiran menggunakan uang rakyat. Meskipun menuai kritik dari rakyat nampaknya anggota DPR ini tetap bebal,” tegasnya saat ditemui pada hari Rabu, 28 November 2012.

Dugaan kunjungan kerja yang hanya dijadikan kedok telah membuat Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman lalu mengawasi mereka. Namun anehnya, Ketua DPR RI, Marzuki Alie menuduh balik PPI dengan tudingan sebagai upaya untuk mendiskreditkan DPR.

Dalam penelursuran PPI Jerman, kunjungan kerja yang dilakukan DPR RI ke DIN Jerman ini memang terlihat tidak siap dan direncanakan dengan baik.

Menurut Muhammad Sukron, video yang diunggah oleh PPI Jerman adalah bentuk konkrit protes pelajar Indonesia kepada anggota Dewan  yang dianggap hanya ‘plesiran’ di Jerman. Penyelidikan mereka didasarkan atas kecurigaan dari awal karena DIN bukan lembaga negara atau pemerintah.

Indonesia Media

Kegiatan para anggota DPR yang mengjkuti rapat di DIN itu lalu direkam dan diunggah ke situs YouTube. Rapat yang berlangsung selama dua jam itu terlihat hanya berdiskusi soal DIN saja dan tidak ada aspek penting yang didapat dari rapat. Inti diskusi hanyalah soal sejarah terbentuknya DIN di Jerman dan Eropa, prosedur kerja dan hubungannya dengan kebijakan pemerintah Jerman.

Dialog yang berlangsung antara DPR dan DIN itu terkesan percuma dan kaku karena DPR menggunakan perantara penerjemah. Padahal DIN sudah menggunakan Bahasa Inggris, bahasa internasional termudah yang seharusnya dikuasai anggota Dewan. Lagipula permintaan penerjemah itu dilakukan secara mendadak.

Hasilnya, aksi rapat anggota DPR dan DIN yang diunggah ke YouTube itu lalu mendapat cibiran dari masyarakat. Namun sayangnya baru beberapa hari tayang, video itu tidak bisa lagi dilihat secara umum.

Secara umum, DPR RI hanya menggunakan waktu efektif sebanyak 2 jam dari waktu sepekan yang dihabiskan di Berlin. Dana yang dipakai plesir anggota DPR ke Jerman itu sebanyak Rp. 2,3 miliar yang tentu saja merupakan uang rakyat Indonesia. (RN)

Comment di sini