Bupati Garut Yakin Tak Langgar Aturan Nikah Siri

by
November 29th, 2012 at 12:02 pm

Garut (CiriCara.com) – Menikahi siri seorang gadis belia berusia 18 tahun lalu menceraikannya setelah 4 hari menikah membawa dampak buruk bagi Bupati Garut, Aceng Fikri.

Menanggapi kasus ini, Aceng bersikukuh tidak melanggar aturan saat menikah siri dengan Fani Oktora, gadis asal Limbangan, Kabupaten Garut. Ia menduga kasus ini sengaja dibesarkan oleh lawan politik guna mencemarkan nama baiknya.

Inilah

“Masalah ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan sejak 16 Agustus 2012 dengan surat kesepakatan di atas materai dengan kompensasi nominal tertentu. Mungkin ada pihak yang mau menghancurkan nama baik saya jelang Pemilihan Bupati Garut 2013 nanti,” kata Aceng seperti dikutip Kompas.com di Garut, Rabu 28 November 2012.

Bupati yang mengaku telah dua tahun berpisah dari istrinya itu menikahi Fani yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas pada 16 Juli 2012 lalu menceraikannya 4 hari kemudian.

Tingkah Aceng ini dianggap tidak pantas dan melanggar hukum karena ia menjabat sebagai seorang kepala daerah yang harusnya menjadi panutan.

Ia juga dituduh telah melanggar Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak karena menikahi gadis di bawah umur dan UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Manusia karena menjanjikan imbalan agar pernikahan berlangsung.

Ketika ditemui awak media, Aceng tidak memberi tanggapan yang pasti soal kabar pernikahannya. Ia menyatakan urusan ini adalah urusan pribadi yang tidak perlu menjadi bahan pembicaraan orang lain. Bahkan bila ia dipanggil oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, nanti, Aceng siap memberikan penjelasan.

Fani Oktora, gadis yang dinikahi Aceng, mengaku mau dinikahi karena ia dan keluarganya dijanjikan akan diberangkatkan umroh bila ia mau menjadi istrinya.

Pernikahan siri yang sangat singkat itu berlangsung di kediaman orang tua Fani di Limbangan, Garut. Setelah 4 hari menikah, Fani diceraikan lewat pesan singkat atau SMS dengan alasan karena Bupati Aceng menganggap Fani tidak lagi perawan. Akibatnya, Fani masih menderita trauma psikologis hingga hari ini.

Sementara itu Ketua Bidang Advokasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Garut, Nitta Wijaya berharap agar ada langkah khusus dari Pemprov Jabar dan Kemendagri agar bisa menyelesaikan masalah ini. (RN)

Comment di sini