Tiru Aceng, Anggota DPRD Tasikmalaya Juga Nikah Diam-diam

by
December 13th, 2012 at 4:10 pm

Tasikmalaya (CiriCara.com) – Jika pria sudah punya kekuasaan, jabatan, dan harta maka godaan selingkuh atau menikah lagi dengan wanita lain akan lebih besar.

Harian Terbit

Beberapa pekan ini, media nasional dihebohkan dengan isu pernikahan kilat Bupati Garut, Aceng Fikri yang hanya berlangsung empat hari dengan wanita muda berusia 18 tahun, Fani Oktora. Parahnya lagi sang Bupati menceraikan mantan istrinya itu dengan alasan karena Fani sudah tidak lagi perawan.

Tidak hanya berhenti di situ, penelusuran tentang jati diri Bupati ini berlanjut dan didapati bahwa sang Bupati Aceng pernah menikah siri tahun lalu dengan wanita muda lain asal Karawang, Shinta Larasati. Baik Fani maupun Shinta sama-sama diceraikan lewat perangkat seluler.

Mungkin Aceng Fikri hanya satu dari sekian ratus pejabat yang menikah diam-diam atau berselingkuh karena sudah merasa punya segalanya. Padahal, uang dan kedudukan yang mereka peroleh itu berasal dari negara, bukan dari kantong mereka sendiri.

Salah satu contoh lain yang baru saja terkuak adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tasikmalaya yang terlibat kasus pernikahan diam-diam dengan wanita lain. Kasus ini hampir mirip dengan kasus sang Bupati Aceng Fikri.

Politisi yang dimaksud adalah Deni Ramdani Sagara yang dilaporkan ke Polres Tasikmalaya Kota oleh istrinya dengan tuduhan telah menelantarkan keluarga.

Istri Deni yang bernama Fitriani Wulan mendatangi sang suami ke Tasikmalaya. Saat datang, Fitriani kecewa lantaran suaminya sudah punya istri baru. Bahkan sang suami melarang Fitriani memasuki rumahnya.

Selama bertugas di Tasikmalaya, keluarga Deni dari istri pertama memang tinggal di Yogyakarta. Deni yang tidak ingin nama baiknya tercemar seperti Aceng langsung menggelar konferensi pers untuk mengantisipasi hal yang lebih buruk.

“Semua tuduhan itu tidak benar. Saya sangat menyayangi keluarga saya,” kata Deni, Rabu sore, 12 Desember 2012 seperti dikutip Tempo.co.

Deni mengaku selalu memberikan nafkah untuk keluarganya yang berdiam di Yogyakarta walau ia sendiri ada di Tasikmalaya. Sedangkan alasan Deni melarang istri pertamanya masuk adalah untuk menghindarkan pertengkaran yang mungkin terjadi antara istri pertama dan kedua.

Deni mungkin bisa berkilah dan mangkir dari ulahnya, namun pernikahan dengan cara seperti ini tidak dapat dibenarkan. Apalagi jika para pelaku adalah pejabat negara yang seharusnya menjadi panutan bagi rakyatnya.(RN)

Comment di sini