Sambut Hari Ibu, SBY Sindir Pejabat Selingkuh

by
December 18th, 2012 at 4:11 pm

Jakarta (CiriCara.com) – Puncak peringatan Hari Ibu ke-84 yang berlangsung hari ini, Selasa, 18 Desember 2012, di Gedung SMESCO, Jakarta dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya, Ani Yudhoyono.

The Jakarta Post

Dalam acara itu, Presiden SBY menyampaikan sebuah pidato yang terkesan menyentil kasus perselingkuhan para pejabat daerah yang akhir-akhir ini populer oleh Bupati Garut, Aceng Fikri lewat kasus pernikahan kilat empat harinya dengan Fani Oktora.

“Kita harus menghormati lembaga perkawinan. Kita harus mematuhi UU perkawinan, sekaligus menjunjung tinggi moral dan etika,” kata SBY yang kemudian disambut meriah oleh para hadirin yang terdiri atas kumpulan ibu-ibu tersebut.

Acara puncak peringatan Hari Ibu yang dilangsungkan hari ini bertema ’Peran Perempuan dan Laki-laki dalam mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan Menuju Kesejahteraan Bangsa‘ .

Dalam kesempatan tersebut, Presiden SBY juga menghimbau agar semua pihak mau mencegah pelecehan terhadap kaum perempuan termasuk melindungi serta menghormati kaum perempuan.

Presiden yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu menyerukan agar pemimpin formal dan non formal di negeri ini dapat menjadi contoh dan teladan sebagai seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Di akhir pidatonya, Presiden mengingatkan kaum ibu dan wanita untuk menyukseskan pembangunan Milenium Development Goals (MDGS) pada tahun 2013 yang dapat menghapuskan kemiskinan di negara masing-masing.

Sebelum berpidato, beberapa waktu lalu, SBY juga sempat mengomentari kasus skandal Aceng Fikri, Bupati Garut lewat Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi. SBY menghimbau kepada bawahannya agar segera menangani kasus Aceng Fikri.

“Negeri ini tentu memiliki etika, tata krama, dan norma-norma kepatutan yang perlu dilakukan kita semua, apalagi sebagai seorang pejabat pemerintah yang mengemban amanah. Jangan diambil sepele persoalan ini, saya minta ditangani dengan cepat dan tuntas, tetapi tidak perlu secara emosional, tetapi mendidik dan tentu memberikan ketegasan kepada semua bahwa norma, etika, dan tata krama perlu ditegakkan di negeri ini,” ujar Presiden seperti dikutip Kompas.com, Jumat, 7 Desember 2012. (RN)

Comment di sini