Larangan Model Terlalu Kurus di Israel Menuai Kontroversi

by
January 3rd, 2013 at 2:37 pm

CiriCara.com – Seorang model pasti diidentikkan dengan tubuh ramping yang tinggi menjulang. Banyak wanita yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan berat badan ideal seperti para model, supaya mereka juga dapat kesempatan berlenggok di atas catwalk.

Banyak agen-agen model yang menerapkan aturan yang ketat bagi para modelnya. Mereka lebih mementingkan bentuk tubuh daripada mendapatkan model yang sehat. Untuk menjadi model seringkali hanya berat badan dan tinggi badan yang dipertimbangkan sebagai tolak ukur yang utama.

Tapi, apakah cantik itu harus selalu diidentikkan dengan kurus, atau bahkan terlalu kurus?

Itulah yang menjadi alasan mengapa Israel membuat undang-undang yang melarang perusahaan jasa iklan ataupun event peragaan busana menggunakan model yang terlalu kurus.

Undang-undang ini juga mengharuskan perusahaan periklanan menuliskan keterangan di bawah gambar model, apabila mereka merekayasa bentuk tubuh model tersebut hingga terlihat lebih ramping.

Rupanya, undang-undang tersebut membawa dampak bagi dunia mode di awal tahun 2013 ini. Pasalnya, berkat undang-undang yang diterapkan di Israel itu, para pengamat model di seluruh dunia jadi terdorong untuk melakukan peninjauan ulang akan standarisasi berat badan yang akan diterapkan bagi para model.

Undang-undang yang disahkan oleh badan legislatif Israel pada Maret 2012 lalu ini menetapkan standar bahwa seorang model itu harus memiliki indeks rasio berat badan terhadap tingginya mulai dari 18,5%, dan tidak boleh berada di bawah angka tersebut.

Itu artinya, jika seorang model memiliki tinggi badan 172 cm, maka berat badan idealnya haruslah 53 kg atau 54 kg, dan tidak boleh di bawah itu.

Rachel Adatto, dokter dan pendukung hukum tersebut, menyatakan bahwa undang-undang itu dibuat untuk memerangi gangguan makan yang umumnya sering dialami oleh para model maupun calon model, seperti bulimia, dan anorexia.

Adi Barkan, mantan agen model di Israel juga setuju terhadap adanya undang-undang tersebut setelah dirinya bertemu dengan calon model yang lebih cocok menjadi pasien sebuah rumah sakit ketimbang menjadi model.

Sejak saat itu, dirinya berpikir bahwa hanya undang-undanglah yang dapat mengubah situasi tersebut, karena sekarang ini, terlalu banyak wanita-wanita yang rela diet sampai mati demi menggapai kecantikan.

Meski demikian, undang-undang ini tetap dianggap kurang efektif oleh Susan Ice. Dilansir dari Yahoo.com, Susan yang bekerja sama dengan CFDA (Council of Fashion Designers of America) yang menangani pengobatan gangguan makan, mengatakan bahwa pendekatan melalui undang-undang seperti itu tidak efektif karena dunia model sama saja dengan dunia seni.

Jika seorang seniman menginginkan modelnya dengan kriteria tertentu, maka sang model harus menurutinya, dan pihak luar tidak dapat mengatur naluri seni sang seniman terhadap modelnya itu. Lagipula, terlalu sulit untuk mengubah lingkungan yang sudah memuja tubuh kurus sebagai kecantikan yang didambakan.

Namun hal ini harus kembali lagi kepada individu setiap model maupun calon model. Mereka harus memilih apakah mereka mau cantik dan tetap sehat, atau cantik tapi tersiksa dengan penyakit pencernaan.

(yk)

Yahoo! Shine

Comment di sini